
Inter Milan saat bertanding di Serie A. (@Inter/X)
JawaPos.com–Perjalanan Inter Milan tidak selalu dihiasi kesuksesan seperti yang terlihat di era Simone Inzaghi atau Antonio Conte. Jauh sebelum kembali ke jalur juara, klub berjuluk Nerazzurri ini sempat melewati fase sulit, terutama dalam urusan pergantian pelatih.
Kursi kepelatihan Inter bahkan pernah disebut seperti kursi panas karena cepatnya pergantian dan tekanan besar yang dihadapi. Berikut sepuluh pelatih yang dinilai gagal memberikan dampak positif.
Di posisi ke-10 ada Walter Mazzarri. Datang dengan reputasi bagus dari Napoli, dia justru menghadirkan permainan monoton dengan formasi 3-5-2 yang kaku. Kritik terus berdatangan hingga akhirnya ia harus angkat kaki.
Nama berikutnya adalah Rafael Benitez yang menggantikan Jose Mourinho pasca treble 2010. Meski sempat meraih trofi Piala Dunia Antarklub, konflik internal membuat masa jabatannya hanya seumur jagung.
Kemudian ada Andrea Stramaccioni yang gagal memenuhi ekspektasi sebagai Mourinho baru. Minim pengalaman membuat Inter terpuruk di papan tengah klasemen.
Gian Piero Gasperini bahkan hanya bertahan lima laga. Formasi tiga bek yang dipaksakan tidak cocok dengan skuad saat itu dan berujung hasil buruk.
Baca Juga: Dipimpin John Herdman, Latihan Timnas Indonesia Dihadiri 15 Pemain Termasuk Elkan Baggott
Hal serupa terjadi pada Frank de Boer yang datang mendadak. Minim waktu adaptasi dan perbedaan filosofi membuatnya hanya bertahan 85 hari.
Di posisi kelima, Marco Tardelli dikenang karena kekalahan telak 0-6 dari rival sekota, AC Milan salah satu momen paling memalukan dalam sejarah klub.
Claudio Ranieri yang dikenal sebagai pemadam krisis juga gagal total. Inter justru mencatat rekor kekalahan beruntun di bawah arahannya.
Nama besar seperti Marcello Lippi pun tak luput dari daftar ini. Konflik dengan Roberto Baggio serta kegagalan di kompetisi Eropa membuatnya kehilangan kepercayaan.
Selanjutnya, Corrado Orrico yang mencoba pendekatan taktik ekstrem justru merusak keseimbangan tim dan mengundurkan diri sebelum musim berakhir.
Di posisi teratas ada Roy Hodgson. Meski pernah membawa Inter ke final Piala UEFA, keputusannya melepas Roberto Carlos menjadi noda besar. Carlos kemudian bersinar bersama Real Madrid, sementara keputusan tersebut terus dikenang sebagai salah satu blunder terbesar klub.
