
Dewa United tersingkir dari AFC Challenge Cup tahun lalu. (Dok. Dewa United)
JawaPos.com - Perubahan format Liga Champions Asia atau AFC Champions League (ACL) Elite belum sepenuhnya mendapat sambutan positif. Media ternama Inggris The Guardian menilai kompetisi kasta tertinggi antarklub Asia itu masih menyimpan sejumlah persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Dalam ulasannya, The Guardian menyoroti bahwa perubahan format kompetisi tidak serta-merta membuat persaingan menjadi lebih merata. ACL Elite dinilai semakin eksklusif karena hanya diikuti sebagian kecil negara anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Dari total 47 asosiasi anggota AFC yang berhak mengikuti kompetisi antarklub, hanya 12 negara yang mendapatkan wakil di ACL Elite. Artinya, sekitar 75 persen negara di Asia tidak ikut berpartisipasi dalam ajang yang sejatinya setara dengan Liga Champions Eropa tersebut.
Baca Juga:Victor Dethan Resmi Gabung Persija, Siap Bekerja Keras dan Antar Macan Kemayoran Kembali Juara
Kondisi itu dianggap sangat berbeda dibandingkan UEFA Champions League (UCL). Di Eropa, sebanyak 53 dari 55 negara anggota UEFA memiliki wakil di kompetisi tersebut, sehingga distribusi peserta dinilai jauh lebih merata dan memberikan kesempatan lebih luas kepada klub dari berbagai negara.
Karena alasan tersebut, The Guardian menyebut ACL Elite lebih pantas disebut sebagai turnamen eksklusif dibanding benar-benar mencerminkan makna elite yang mengedepankan kualitas kompetisi secara menyeluruh.
Selain jumlah peserta, kesenjangan kekuatan finansial antar klub juga menjadi sorotan utama. Perbedaan anggaran belanja pemain dinilai terlalu jauh sehingga membuat persaingan tidak berjalan seimbang.
Sebagai contoh, klub Arab Saudi Al Ahli dikabarkan menggelontorkan dana transfer lebih dari 200 juta dolar Amerika Serikat untuk memperkuat skuad. Sementara itu, klub Jepang Machida Zelvia melakukan perekrutan dengan nilai yang jauh lebih sederhana, salah satunya mendatangkan Tete Yengi yang sebelumnya bermain di Liga Skotlandia.
Perbedaan kemampuan finansial tersebut dianggap menciptakan jurang kualitas yang semakin lebar di antara peserta ACL Elite. Sorotan lainnya datang dari keputusan AFC yang menunjuk Jeddah, Arab Saudi, sebagai tuan rumah babak perempat final hingga final ACL Elite.
Kebijakan ini memunculkan pertanyaan mengenai asas keadilan bagi seluruh peserta. Menurut The Guardian, klub-klub asal Arab Saudi berpotensi memperoleh keuntungan karena sudah terbiasa dengan kondisi cuaca, lapangan, hingga dukungan suporter yang akan memenuhi stadion.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022