
PERTAUTAN DUA KOTA: Aditya Arya Nugraha (kiri) berlatif bersama Aji Santoso kemarin (23/9). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Dari masa ke masa, Arema FC dan Persebaya sejatinya tak henti bergandengan tangan melahirkan pemain hebat. Jadi, saat keduanya bertemu pekan depan, nikmati saja adu taktik dan adu skill-nya.
---
ASALNYA dari Kota Malang. Idolanya pun kiper legendaris Arema FC Kurnia Meiga. Tapi, Aditya Arya Nugraha tak pernah mendapati itu sebagai kendala selama bergabung bersama Persebaya Surabaya.
”Semua rekan menjaga dan menerima saya dengan baik. Banyak diberi ilmu juga,” tutur kiper 18 tahun itu.
Buntutnya, performa Adit juga terus berkembang. Di kualifikasi Piala Asia U-20 pekan lalu, seiring cederanya kiper utama Cahya Supriadi, Adit terpilih menggantikan. Termasuk di ”final” melawan Vietnam yang akhirnya dimenangi Indonesia 3-2.
Di skuad timnas senior, dua bintang muda kedua tim, Rizky Ridho dan M. Rafli, juga bahu-membahu bersama para pemain lain membela Merah Putih dalam dua uji coba melawan Curacao.
Rafli menyebutkan, tiap kali Arema FC dan Persebaya bertemu, intensitasnya memang selalu tinggi. Tapi, dia memastikan itu hanya terjadi di atas lapangan dan selama 90 menit.
”Di luar itu, pemain Arema FC dan Persebaya saling berteman,” katanya.
Jadi, memang sedekat itu sejatinya relasi Arema FC dan Persebaya yang dijadwalkan berhadapan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10) pekan depan. Dan, itu tak hanya terjadi sekarang. Sudah berlangsung dari generasi ke generasi.
Tak sedikit pemain yang turut menghadirkan prestasi bagi Green Force berasal dari Malang Raya. Begitu pula sebaliknya. Sejumlah pemain asal Surabaya dan sekitarnya –atau setidaknya dibina di kompetisi internal Persebaya– juga pernah menjadi bagian kejayaan Singo Edan.
Bahkan, ada pula yang pernah berkostum keduanya. Aji Santoso, I Putu Gede, dan Sutaji adalah beberapa di antaranya. ”Semua yang ada dalam tim adalah keluarga besar Persebaya. Kami tidak pernah memandang status dan daerah,” jelas Aji yang saat ini menangani Persebaya.
Di skuad Arema sekarang pun ada Evan Dimas Darmono, arek Suroboyo yang dibina di kompetisi internal Persebaya. Meski peluang kapten timnas Piala AFF 2020 itu untuk tampil Sabtu depan terbilang kecil karena faktor kebugaran. ”Evan Dimas saya lihat masih lemas. Itu karena dia baru pulih dari sakit tifus,” kata pelatih Arema FC Javier Roca.
Ini belum bicara relasi Malang-Surabaya di luar urusan sepak bola yang terjalin sangat erat sehari-hari. Jadi, saat kedua tim berlaga Sabtu depan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, nikmati saja pertandingannya. Adu taktik, adu skill, intensitas tinggi, tapi hanya di lapangan. Dan, hanya 90 menit. ”Sepak bola dimainkan untuk menghibur. Tidak pantas kalau sepak bola diwarnai kekerasan,” ujar Rafli.
Sembari menyaksikan laga itu nanti, selalu ingatlah pada sosok Adit yang kini tengah menapaktilasi kesuksesan Aji, Putu Gede, Sutaji, dan banyak nama hebat lain yang pernah dibesarkan dua kota besar di Jawa Timur itu. ”Surabaya sebagai kota asal Persebaya, Malang sebagai kota kelahiran saya. Alhamdulillah bisa membuat bangga dua kota itu,” kata Adit.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
