Salah satu pemain Persebaya, Ardi Idrus tengah melakukan sesi latihan pada Selasa, (14/1) di Gelora 10 November. (Dok. Persebaya)
JawaPos.com – Persebaya Surabaya dan talenta dari Maluku merupakan dua entitas yang berkaitan erat. Tak heran jika jelang laga Persebaya versus Malut United Jumat (17/1) di Gelora Bung Tomo tak ubahnya laga antara dua kawan.
Saat ini, di Persebaya terdapat 3 pemain asal Maluku Utara yaitu Ardi Idrus, Risman Lauhin, dan Alfan Suaib. Sedang di kubu Malut United terdapat juga 3 nama yang punya tautan masa lalu dengan Persebaya, yakni direktur teknik Yeyen Tumena yang jadi pemain Persebaya 2004-2005, lalu Saddam Tenang yang memperkuat Persebaya sejak jenjang junior pada 2011 lalu naik tim senior sampai 2013 dan Alwi Slamat. Alwi yang juga pernah jadi kapten Persebaya itu membela tim kebanggaan Kota Pahlawan sejak musim 2019 hingga 2023 lalu.
Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) penulis buku Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola Rojil Nugroho Bayu Aji mengatakan, tradisi pemain berdarah Maluku di Persebaya merupakan hasil interaksi perjalanan historis, kultural, dan pilihan kebijakan klub.
“Hubungan yang telah terjadi berdekade lamanya ini tampaknya akan menjadi bagian penting dari sejarah Persebaya,” tulis Rojil dalam pesan singkat.
Ia mencontohkan nama-nama seperti Yongki Kastanya, Maura Hally atau Aries Sainyakit yang menjadi figur sentral saat Green Force juara perserikatan 1987-1988. Lalu ada Chairil ‘Pace’ Anwar Ohorella, Reinald ‘Koko’ Pieters, dan Rahel Tuasalamony yang bagian dari Persebaya saat kampiun era Divisi Utama 1996-1997 serta 2004.
Rojil lalu menyebutkan 2 buku yang menjadi rujukan untuk memahami bagaimana masyarakat Maluku dengan budaya dan adatnya bisa membaur dengan warga Surabaya. Pertama buku karya R.Z. Leirissa yang berjudul Sejarah Kebudayaan Maluku.
“Buku ini menjelaskan bagaimana migrasi orang-orang Maluku yang sudah terjadi era bahkan sebelum colonial Belanda. Migrasi dan silang budaya dari proses interaksi ini menjadikan Maluku sebagai masyarakat yang multikultur,” terang Rojil.
Buku kedua adalah milik dekan FIB Universitas Airlangga yaitu Profesor Purnawan Basundoro. Dalam buku Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Zaman Kolonial sampai Kemerdekaan, disebut kalau Surabaya telah menjadi jujukan beragam etnis dan kota urban sejak awal abad ke-20. “Ini membuat masyarakat Surabaya multikultur dan egaliter,” lanjut Rojil.
Rojil berujar orang-orang Maluku dikenal memiliki semangat juang yang tinggi. Hal itu sejalan dengan karakteristik Surabaya yang kemudian tampak pada karakter permainan Persebaya yang punya citra penuh semangat juang atau ngosek dan keras.
“Jangan lupa di 2021, Gubernur Maluku Murad Ismail yang bertemu dengan perwakilan Persebaya dan mendorong untuk terus menjaring dan merekrut generasi pesepakbola muda Maluku agar jadi bagian Persebaya,” tutur Rojil.
Melihat panjangnya relasi kultur dan historis, tak heran jika Persebaya dan talenta Maluku selalu punya irisan serta bersinergi. Katong Samua Orang Basudara!

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
