Pelatih Persebaya Surabaya, Eduardo Perez. (Istimewa)
JawaPos.com — Jauh sebelum jadi pelatih kepala Persebaya Surabaya untuk Liga 1 Indonesia 2025/2026, Eduardo Perez Moran sudah jatuh hati pada Indonesia. Pelatih asal Spanyol itu menyebut Indonesia sebagai negeri dengan gairah dan potensi sepak bola yang luar biasa.
Eduardo bukan sosok asing di dunia sepak bola internasional. Ia pernah bermain dan melatih di Spanyol, Siprus, Qatar, hingga Uni Emirat Arab sebelum akhirnya memilih Indonesia sebagai "rumah" barunya.
Dalam kariernya, ia bekerja dengan pelatih kelas dunia seperti Rubi, Luis Milla, hingga Julio Banuelos. Eduardo menyerap semua pelajaran dari mereka dan menjadikannya fondasi kuat untuk menangani tim di berbagai belahan dunia.
Namun yang paling dia soroti bukan hanya soal taktik atau teknik, melainkan kemampuan untuk beradaptasi. Ia menyebut adaptasi sebagai pelajaran utama yang tak pernah diajarkan di bangku kursus kepelatihan.
Dari salat dan Ramadhan di Timur Tengah, hingga kultur keterlambatan di beberapa klub Asia, Eduardo sudah merasakannya semua. Namun Indonesia berbeda, menurutnya negeri ini punya semangat yang tidak bisa dibeli.
“Di Indonesia, pemainnya selalu berlatih sepenuh hati. Bahkan kadang kami harus menghentikan latihan karena mereka terlalu bersemangat,” ungkapnya dalam dikutip dari Manugalera.
Semangat dan rasa lapar untuk berkembang itulah yang membuat Eduardo dan keluarganya memutuskan kembali ke Indonesia. Ia merasa masyarakat Indonesia begitu rendah hati dan terbuka untuk belajar.
Eduardo bahkan menyebut Indonesia mirip Spanyol di masa kecilnya, ketika taman-taman penuh dengan anak-anak bermain bola. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, ia percaya talenta sepak bola Indonesia sangat besar.
Sayangnya, potensi besar itu belum tergarap maksimal. Hal inilah yang menjadi motivasinya untuk ikut membangun fondasi sepak bola Indonesia dari akar rumput.
Bersama Luis Milla saat menangani Timnas Indonesia, ia menggagas sistem akademi yang sekarang berkembang jadi Elite Pro Academy. Sebuah sistem pembinaan yang menjadi jembatan antara bakat jalanan dan tim nasional.
“Dulu kalau ada pemain bagus, tinggal dipanggil ke timnas, selesai. Tapi sekarang kami bantu bangun sistemnya, supaya ada wadah yang berkelanjutan,” kata Eduardo.
Salah satu tempat yang dia banggakan adalah Akademi Sepak Bola Persija Jakarta, tempat ia membina anak-anak setiap hari.
Sekolah itu kini punya jutaan pengikut di media sosial, jadi magnet baru bagi pencari mimpi di dunia sepak bola.
Bagi Eduardo, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, tapi misi hidup. Ia ingin menyaksikan Indonesia bangkit dan menjadi kekuatan sepak bola dunia.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
