
Skuad Persija Jakarta saat sesi latihan jelang lanjutan Super League 20252026. (Persija)
JawaPos.com — Persija Jakarta memilih menarik napas sejenak di tengah panasnya persaingan Super League 2025/2026. Usai menghadapi Dewa United pada 15 Maret 2026, skuad Macan Kemayoran resmi diliburkan selama sepekan dari rutinitas latihan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan karena momentum Ramadhan dan Idulfitri 1447 H jadi pertimbangan utama. Pelatih Mauricio Souza memberi ruang bagi para pemain untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga.
“Sekarang kami akan memiliki waktu libur selama satu minggu karena banyak pemain akan kembali ke kota asal mereka untuk merayakan hari raya bersama keluarga. Kami menghormati Ramadhan dan momen Idulfitri,” kata Mauricio.
Pernyataan itu menegaskan pendekatan humanis yang ia bangun dalam mengelola tim.
Di balik libur ini, tersimpan strategi penting untuk menghadapi laga berikutnya.
Persija Jakarta masih memiliki jeda cukup panjang sebelum bertemu Bhayangkara Presisi Lampung FC pada 5 April 2026 di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung.
Artinya, ada waktu sekitar 17 hari yang bisa dimaksimalkan untuk pemulihan fisik dan mental pemain. Ini jadi momen krusial, terutama setelah jadwal padat yang menguras energi sepanjang musim.
Rencananya, Rizky Ridho dan rekan-rekan akan kembali berlatih dua pekan sebelum pertandingan. Latihan di Persija Training Ground Bojongsari akan difokuskan pada peningkatan intensitas dan penyempurnaan strategi.
Mauricio berharap para pemain kembali dengan kondisi yang lebih segar. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental yang lebih siap untuk menghadapi tekanan di sisa musim.
Jika melihat performa hingga pekan ke-25, Persija Jakarta sebenarnya tampil cukup menjanjikan. Mereka mencatatkan 45 gol dari 25 pertandingan dengan rata-rata 1,8 gol per laga.
Catatan ini menunjukkan lini serang Persija Jakarta cukup produktif. Namun, ada satu catatan penting yang masih jadi pekerjaan rumah besar.
Efisiensi penyelesaian akhir masih belum optimal dengan konversi gol hanya 12 persen. Artinya, Persija membutuhkan banyak peluang untuk bisa mencetak gol, sesuatu yang bisa jadi masalah di laga-laga krusial.
Di sisi lain, dominasi permainan menjadi kekuatan utama Persija Jakarta. Dengan penguasaan bola mencapai 58,3 persen dan akurasi umpan 85,5 persen, mereka mampu mengontrol ritme pertandingan.
