
Mochamad Mierza Firjatullah ditemui wartawan di Mixed Zone usai membela Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF U-17 2026. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com–Perubahan kepelatihan di Timnas Indonesia U-17 mulai terasa dampaknya di lapangan. Mochamad Mierza Firjatullah akhirnya buka suara, mengungkap dinamika transisi dari tangan Nova Arianto ke Kurniawan Dwi Yulianto yang kini jadi sorotan publik.
Striker muda yang menjadi bagian penting skuad Garuda Muda itu menegaskan, secara prinsip tak ada perbedaan mencolok dalam metode kepelatihan. Namun, proses adaptasi tetap menjadi kunci yang menentukan performa tim di tengah jadwal yang padat.
”Sebenarnya nggak ada perbedaan karena anak-anak juga sempat dipegang coach Nova, sempat dipegang coach Kurniawan. Ya mungkin butuh adaptasi saja,” kata Mierza di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu (19/4) malam.
Pernyataan tersebut memperlihatkan fondasi permainan Timnas Indonesia U-17 masih berada dalam jalur yang sama. Meski begitu, detail teknis dan pendekatan di lapangan tetap membutuhkan penyesuaian dari para pemain muda.
Situasi ini semakin kompleks karena perubahan pelatih terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Hal itu membuat para pemain harus cepat memahami instruksi baru tanpa kehilangan identitas permainan yang sudah dibangun sebelumnya.
Tak hanya soal taktik, Mierza juga menyoroti perubahan atmosfer yang kini dirasakan di dalam tim. Dia mengakui, tekanan yang datang dari publik Indonesia kini jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Hal itu tak lepas dari keberhasilan Timnas Indonesia U-17 menembus ajang Piala Dunia U-17 2025 yang digelar di Qatar. Pencapaian tersebut otomatis meningkatkan ekspektasi masyarakat terhadap performa Garuda Muda.
”Kalau untuk saya karena yang dulu tekanannya kayak masih anak-anak benar-benar los, nggak denger tekanan yang lain. Karena track record mungkin kemarin masuk Piala Dunia jadi masyarakat pasti kayak tekanannya harus main lebih bagus lagi,” ungkap Mierza.
Tekanan ini menjadi tantangan mental tersendiri bagi para pemain yang sebagian besar masih dalam usia remaja. Mereka kini tak hanya dituntut bermain baik, tetapi juga harus mampu menjaga konsistensi di setiap pertandingan.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
