
Tim dan ofisial Persib Bandung menyapa warga saat konvoi juara Super League 2025 -2026 di Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/5). (Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung)
JawaPos.com - Perdebatan soal aturan penentuan juara kembali ramai dibahas setelah komentar gelandang Timnas Indonesia Thom Haye viral di media sosial. Pemain yang kini menjadi bagian penting skuad Garuda itu ikut menanggapi diskusi mengenai penggunaan aturan head to head dibanding selisih gol dalam menentukan posisi klasemen.
Diskusi bermula dari komentar pelatih Fabio Lafundes melalui akun media sosial pribadi. Fabio menyayangkan kegagalan timnya meraih gelar karena aturan head to head. Menurut dia, jika melihat statistik sepanjang musim, performa Borneo FC dinilai lebih unggul dibanding tim lain.
”Sayang sekali gelar juara karena aturan head to head, padahal jika bicara data statistik performa Borneo FC jauh unggul dari siapapun,” tulis Fabio dalam unggahannya.
Komentar tersebut kemudian mendapat balasan dari Thom Haye. Dengan kalimat singkat, pemain berusia 31 tahun itu memberikan pandangan mengenai pentingnya aturan head to head dalam kompetisi liga.
”Mungkin aturan itu ada untuk melindungi juara sejati dari hasil seperti pertandingan terakhir,” tulis Thom Haye dalam kolom komentar.
Komentar tersebut langsung menarik perhatian banyak suporter sepak bola Indonesia. Tidak sedikit yang menilai pernyataan Thom Haye menyindir potensi pertandingan yang kurang kompetitif di pekan terakhir jika penentuan juara hanya berdasar selisih gol.
Sejak musim 2017, kompetisi Liga Indonesia menggunakan aturan head to head sebagai penentu posisi klasemen ketika dua tim memiliki jumlah poin yang sama. Aturan itu diterapkan untuk membuat setiap pertemuan antar tim pesaing menjadi laga penting sepanjang musim.
Dengan sistem head to head, setiap pertandingan dianggap seperti final karena hasil pertemuan langsung memiliki pengaruh besar dalam perebutan posisi klasemen. Sementara jika menggunakan selisih gol, situasi di pekan terakhir dinilai lebih rawan karena ada kemungkinan tim yang sudah tidak memiliki kepentingan tampil kurang maksimal.
Hal itulah yang diyakini menjadi salah satu alasan operator liga tetap mempertahankan aturan tersebut hingga sekarang. Selain menjaga persaingan tetap kompetitif, sistem head to head juga dianggap membuat perebutan gelar lebih ditentukan lewat duel langsung antar kandidat juara.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
