
Photo
JawaPos.com – Duka kembali menyelimuti dunia sepak bola. Setelah Diego Armando Maradona meninggal akibat gagal jantung pada 25 November lalu, kemarin giliran Paolo Rossi yang berpulang. Pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 itu meninggal pada usia 64 tahun karena kanker paru-paru.
’’Aku kehabisan kata-kata. Kami memiliki hubungan persahabatan yang erat meski akhir-akhir ini tidak saling mendengar kabar masing-masing,’’ ucap Dino Zoff, rekan setim Rossi ketika memenangi Piala Dunia 1982, kepada RAI.
Pablito –sapaan Rossi– memang terkenal akan kiprah hebatnya di Piala Dunia 1982. Pada ajang yang dihelat di Spanyol itu, Rossi tak sekadar membawa Gli Azzurri juara, tapi juga menjadi pemain terbaik dan top scorer dengan mencetak enam gol. Dia adalah satu-satunya pemain yang meraih semua gelar itu di tahun yang sama.
Baca Juga: Resmi: Stadio Diego Armando Maradona Gantikan San Paolo Pekan Depan
Salah satu yang fenomenal, dia membukukan hat-trick ke gawang Brasil di grup C pada fase grup kedua. Hat-trick tersebut memastikan Italia menang 3-2.
Pada 2007, The Guardian melabeli grup C sebagai yang paling gila sepanjang sejarah Piala Dunia. Bagaimana tidak. Brasil merupakan unggulan juara dengan pemain hebat seperti Zico dan Socrates. Belum lagi keberadaan Argentina, sang juara bertahan. Itu menjadi debut Maradona di Piala Dunia.
Nah, bagi Maradona, Rossi bak guru. Dia tak pernah bisa menang ketika head-to-head melawan Rossi. Dari dua pertemuan, hasilnya sekali seri dan sekali kalah. Kekalahan 1-2 terjadi di grup C Piala Dunia 1982. Sementara itu, hasil seri 2-2 terjadi di laga persahabatan tiga tahun sebelumnya.
Penampilan heroik Rossi kala itu diyakini menginspirasi Maradona agar melakukan hal serupa bagi Argentina saat menjuarai Piala Dunia 1986.
Kehebatan Rossi di Piala Dunia 1982 kian menggema karena berhasil membuat Italia menang 2-0 atas unggulan lainnya, Polandia, di semifinal. Langkah Italia dituntaskan dengan mengalahkan Jerman Barat di laga puncak yang berakhir dengan skor 3-1. Rossi total mencetak tiga gol di dua laga itu.
La Gazzetta dello Sport menulis bahwa Rossi adalah yang terhebat saat itu. Dia mengalahkan pemain besar seperti Zico dari Brasil, Maradona (Argentina), Zbigniew Boniek (Polandia), dan Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat). Rossi juga menyabet Ballon d’Or 1982.
Namun, ada sisi gelap yang juga membuatnya terkenal. Rossi terlibat skandal pengaturan skor pada 1980 yang dikenal dengan sebutan Totonero. Semula dia diskors tiga tahun dari sepak bola, lalu dikurangi menjadi dua tahun.
Ciao, Pablito!
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022