Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juni 2021 | 22.02 WIB

Wakil Ketua DPRD Surabaya Minta Command Center 112 Lebih Responsif

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti (kiri) di kantor Command Center Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com - Image

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti (kiri) di kantor Command Center Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com

JawaPos.com–Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti melakukan sidak ke kantor Command Center di Siola lantai 2 Surabaya pada Senin (28/6). Sidak itu dilakukan karena Reni mendapatkan beberapa laporan dari warga yang mengeluhkan bahwa call center 112 tidak dapat dihubungi.

”Saya mantau karena banyak yang lapor kalau 112 ini susah dihubungi. Padahal kan warga butuh 112 untuk laporan dan bantuan Covid-19,” jelas Reni.

Beberapa laporan yang diterima, adalah butuh bantuan bila dinyatakan positif Covid-19. Reni mengaku mendapat laporan warga yang merasa kebingungan dan butuh bantuan ambulans. Dia bahkan mencoba telepon. Namun, tidak diangkat.

”Saya juga coba telepon tapi nggak diangkat. Sudah terima tapi dimatikan,” terang Reni.

Ketika di kantor, Reni dihubungkan oleh staf kepada Zaini, koordinator Command Center 112. Melalui sambungan telepon, Reni mempertanyakan mengapa sambungan 112 sulit dihubungi warga.

”Kalau kemudian telepon ke 112 dan nggak dilayani, lalu nggak diterima, kan kasihan ya. Itu masukan dari kami,” ujar Reni.

Salah satu staf kemudian menjawab bahwa banyak telepon iseng yang masuk. ”Ada yang misuh, ketawa-tawa. Itu telepon ke 112,” ujar staf itu.

Kemudian Reni meminta 112 mendata warga yang melakukan telepon iseng. Supaya warga yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan bisa mendapat respons.

”Tolong jangan iseng telpon 112. Ada warga yang benar-benar butuh malah nggak dilayani,” ujar Reni.

Reni menjelaskan, pengaduan terbanyak soal Covid-19. Per 1 operator, ada 15 aduan.

”Tadi ada warga Jagir yang WhatsApp saya. Adiknya itu positif Covid-19, isolasi mandiri. Dia sesak. Telepon 112 nggak bisa. Lalu ada lagi informasi yang lain, warga Putat Jaya dijawab RS penuh. Saya memastikan kondisi layanan di sini,” tutur Reni.

Reni bercerita ketika dia berkunjung, ada yang bertanya rumah sakit. Penelepon adalah warga dari Rungkut. Reni mencatat beberapa jawaban operator tidak solutif. Misalnya, seorang warga menelepon bertanya RS kosong. Kemudian operator memintanya untuk menghubungi sendiri, warga tidak mengetahui nomor-nomor RS.

”Saran saya ke puskesmas terdekat. Tim gerak cepat juga kerja. Tapi ternyata tim itu juga lagi penuh. Ternyata kalau kondisi normal, masih berjalan dengan baik. Tapi kalau kondisi begini, harus diperkuat lagi,” kata Reni.

Warga itu, lanjut Reni, perlu diedukasi kalau terpapar harus bagaimana. Gejalanya seperti apa harus berbuat apa. ”Bukan hanya 112 yang harusnya gerak. Pemkot dan humas, serta Dinkes. 112 hanya operator. Misal keluhannya apa. Oh ternyata belum swab, jadi diarahkan,” kata Reni.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore