Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Juli 2021 | 03.48 WIB

Makam Dijaga Ular Besar, Sering Disambangi ’’Prajurit Majapahit’’

TAMPAK RAPI: Tri Priyo di makam Mbah Khalipah beberapa waktu lalu. Makam itu kerap diziarahi masyarakat saat malam 1 Sura. (TP Wijaya for Jawa Pos) - Image

TAMPAK RAPI: Tri Priyo di makam Mbah Khalipah beberapa waktu lalu. Makam itu kerap diziarahi masyarakat saat malam 1 Sura. (TP Wijaya for Jawa Pos)

Jalur pendakian Gunung Penanggungan tak hanya menyajikan pemandangan alam yang mengesankan. Cerita mistis kerap menghantui para pendaki. Salah satunya, makhluk gaib di sekitar makam Mbah Khalipah di Gunung Gajah Mungkur, anak Gunung Penanggungan.

---

BERTANYALAH pada masyarakat Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, di mana makam Mbah Khalipah berada. Maka, bukan hanya penjelasan terkait dengan lokasi yang didapat. Ada wejangan-wejangan lain yang akan diberikan masyarakat agar pengunjung selamat.

Sebab, tidak mudah masuk ke kompleks makam Mbah Lipah, sebutan masyarakat untuk Mbah Khalipah. Ada jalan terjal yang harus dilalui. Selain harus mendaki, pengunjung harus melewati hutan lebat yang kondisinya sepi.

’’Solusinya harus banyak membaca Al Fatihah,” kata Koordinator Komunitas Sobo Punden Tri Priyo Wijoyo yang pernah berkunjung ke makam Mbah Lipah. Pria asli Surabaya itu menceritakan pengalamannya selama berkunjung ke makam. Termasuk cerita-cerita yang didapatnya dari masyarakat sekitar lokasi.

Makam Mbah Lipah, kata Tri, berada di lereng barat Gunung Gajah Mungkur. Dari permukiman warga di Desa Kunjorowesi, jaraknya puluhan kilometer. Diperlukan waktu dua jam untuk sampai ke lokasi.

Makam Mbah Lipah berada di tengah hutan lebat. Warga yang ingin berkunjung harus menyiapkan mental yang kuat. Ada pantangan yang tak boleh dilakukan saat memasuki kompleks makam lawas.

”Pokoknya tidak boleh teriak jika ingin selamat,” ungkap Tri. Menurut dia, makam Mbah Khalipah dikeramatkan masyarakat. Meski jauh dari permukiman, kondisinya cukup terawat.

Secara bentuk, ada keistimewaan dari makam tersebut. Itu bisa dilihat dari nisan dan kuncup makam. Seluruhnya terbuat dari reruntuhan candi peninggalan Kerajaan Majapahit.

Tidak ada yang tahu siapa yang menata makam. Namun, diduga batu bata kuno yang dipakai untuk menutup makam itu berasal dari punden di sekitar lokasi. Konon, dulu ada banyak punden yang dipakai untuk ritual sembahan di kawasan makam Mbah Lipah.

”Saya langsung deg-degan saat masuk ke makam. Ada perasaan takut, tapi saya upayakan untuk berani,” kenang Tri. Dia memahami ada makhluk gaib yang menjaga makam. Namun, Tri tak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Makhluk-makhluk astral itu tidak hanya bercokol di makam, tetapi juga pepohonan di sekitarnya. Banyak pohon besar yang membuat suasana angker. Usianya sudah ratusan tahun.

Angkernya makam dikuatkan dengan cerita warga Desa Kunjorowesi. Tri sempat mendapat kisah-kisah mistis terkait makam Mbah Lipah. Tidak hanya satu–dua orang. Banyak orang yang mengalaminya.

Menurut Tri, makam banyak dikunjungi saat malam 1 Sura. Ada orang yang berziarah. Sebagian menepi untuk ngalap berkah. ”Mereka berdoa di makam dengan tujuan dilancarkan rezeki mereka,” jelas Tri.

Selama menepi, berbagai kejadian dialami pengunjung. Ada yang merasa didatangi sekelompok ”prajurit” bersenjata lengkap. Prajurit-prajurit yang diduga dari Zaman Majapahit itu menjaga area makam. Mereka tidak mengganggu dan hanya diam mematung.

Selain itu, masyarakat sering mendapati adanya ular besar di bebatuan sekitar makam. Ular yang panjangnya belasan meter tampak menyendiri. ”Warga yang mengetahuinya hanya diam. Mereka tak ingin berurusan lebih jauh,” ungkap Tri.

Saat menepi, ada pengunjung yang sempat tertidur di kompleks makam. Dia bermimpi ada orang tua bersanggul yang mendatanginya. Orang tua tersebut memberikan banyak wejangan terkait dengan masalah hidup.

Meski angker, Tri menjelaskan bahwa kompleks makam Mbah Lipah masih dikunjungi banyak warga hingga saat ini. Sebagian berasal dari luar kota. Mereka mengaku datang untuk berziarah.

Baca Juga: Pengantaran Jenazah Covid-19 di Surabaya Meningkat Tiga Kali Lipat

Dan hingga saat ini, kata Tri, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Mbah Lipah. Ada banyak versi yang tersebar di masyarakat. Ada yang menyebutkan bahwa beliau merupakan pengelana yang meninggal di kawasan tersebut.

Ada juga yang menyatakan bahwa Mbah Lipah merupakan penyebar agama Islam. Dia sesepuh desa. Masyarakat sengaja menguburkannya di kawasan hutan untuk menjaga Gunung Gajah Mungkur.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore