
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Benar kata orang. Mati suri membawa berkah. Selama komaku, yang menurut Pendekar Langlang Jagad hampir tujuh ratusan kali bumi berputar pada porosnya, kuhayati seabreg firman. Cuma, firman-firman itu Gusti sampaikan melalui cerita, bukan dalil-dalil.
---
”GUSTI rupanya lebih suka story, ya, Paman, ketimbang dalil-dalil?”
Itu pertanyaan Tingting, bocah ajaib. Baru 6 tahunan. Sesuai arahan induknya sebelum menembus lorong waktu ke masa depan pandemimu, Elang Langlang Jagad, kunamai ia Perawan Tingting Bakul Kedai karena dialah kesayanganku di antara piyek-piyek lainnya. Gaibnya, setelah penamaan penuh story itu, ia menjelma balita manusia. Piyek-piyek lain moksa seketika.
”Iya, kan, Paman? Gusti sesungguhnya lebih demen cerita karangan-Nya sendiri. Cerita basah Beliau dengan menurunkan salju, menggerakkan pepohonan, menggerakkan virus agar masing-masing membuat narasi wabahnya sendiri-sendiri, daripada Beliau harus membuat dalil-dalil yang kering?”
Duh, maaf, kisahku tadi tentang asal-usul bocah berambut tebal dan bermata bulat ini terpenggal oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus Tingting cecarkan kepada orang tua topian koboi ini. Kulanjutkan ....
Jadi, sepeninggal Pendekar Langlang Jagad yang mewanti-wantiku menjaga dan merawat anak-anaknya di puncak gunung salju ini, aku selalu dilematis. Pergi carikan asupan mereka, maka tak ada yang menengkurapi mereka dengan tubuh telanjangku. Kehangatan sirna. Anak-anak mampus kedinginan. Sedangkan kalau aku tak kunjung beranjak, mereka akan mati kelaparan.
Hmmm... Jurus silat apa yang sejatinya hendak digemblengkan secara tak langsung oleh Pendekar Langlang Jagad melalui dilema-dilema yang harus kulakoni ini? Atau...
”Piye, Paman...?” walah kisahku dipenggal lagi oleh Tingting. ”Mungkinkah Gusti terpaksa membuat dalil-dalil di kitab-kitab karena manusia sudah tak tajam lagi kepekaannya untuk mampu membaca sendiri kisah-kisah angin, pohon, binatang, kisah manusia di alam sebagai kitab, sebagai firman Gusti itu sendiri?”
***
Ampun, tadi ceritaku tercuil-cuil terus oleh pertanyaan si Tingting. Sudah kujawab, sebagian isi kitab-kitab itu pun sesungguhnya juga berupa cerita. Cuma, orang sering lupa bahwa cerita-cerita kelak di muka bumi sejak daun jatuh, pilkada ditunda/tidak, dan lain-lain, sampai manusia memutilasi sesama, adalah cerita Gusti juga yang hanya dengan kepekaan tingkat tinggi bisa dibaca sebagai kitab-Nya, sebagai firman-Nya. Masih kutaburi jawabanku dengan penyedap ini-itu. Akhirnya Tingtingku terlelap di pangkuan beta.
Mumpung dia pulas, kulanjutkan kisahku ... Sampai mana tadi? Oh, bahwa Gusti masih terus menulis kitab-kitab-Nya berupa kisah-kisah nyata di muka bumi.
Dalam komaku yang dua tahunan itu Gusti berfirman bahwa manusia bisa menjadi petinggi maupun orang kaya bukan lantaran menjalankan cita-citanya, tapi sekadar menjalani garis-Nya.
Gusti bicara begitu? Ya, tidaklah.
Beliau cuma menganugerahi penampakan padaku tentang bocah yang tak punya cita-cita jadi pendekar. Sore membahana. Bocah itu mengejar kopekan, layang-layang zaman sebelum ada Candi Borobudur dan Gunung Merapi, lalu tersesat, terperosok dengan dentuman di liang gangsir gaib malam buta, ditolong oleh seorang mahaguru silat. Jadilah kelak ia pendekar.
Pun, manusia terkabul punya suami/istri yang ganteng/cantik, penuh pengertian pula, bukan karena menjalankan apa yang diidam-idamkannya sejak kecil, namun sekadar menjalani garis-Nya.
Gusti bicara begitu? Ya, tidaklah.
Beliau cuma menganugerahkan penampakan padaku seorang perawan. Wajahnya mirip perawan tingting bakul kedai. Ia dinikahkan oleh orang tuanya sebelum haid pertama. Cekcok terus dengan suaminya. Minggat. Mengembara. Secara tak sengaja ia tirukan tari-tarian berbagai hewan dalam pengembaraan yang luas itu. Gerak kupu-kupu yang meriah. Kepak sayap capung yang sunyi. Semuanya. Sampai babi hutan yang sradak-sruduk lugu dan getir liukan kobra.
Di antah-berantah, suatu dini hari mantan suaminya dirampok puluhan begal akibat maraknya pengangguran. Kebetulan mantan istrinya sedang lewat sana. Dengan gerak-gerik tubuhnya yang tiba-tiba mirip tarian hewan-hewan ia tampil menjadi juru selamat lelaki malang itu. Puluhan begal dan penyebab munculnya penganggur tewas. Orang-orang di pasar pagi mengelu-elukannya sebagai Pendekar Mantan Belahan Jiwa, julukan yang kemudian melegenda dan lestari di kalangan ibu-ibu.
***
Firman Gusti melalui cerita-cerita itu, dan masih banyak cerita lain lagi, bukan cuma kabar burung. Aku mendengarnya langsung via pengakuan ribuan pendekar sebelum mati terhormat karena kalah dengan pendekar yang mereka tantang: Pendekar Sastrajendra, aku!
Dalam dunia persilatan mati terhormat bukanlah mati setelah punya lumbung uang hasil korupsi lalu ke tanah makam diantarkan ribuan pelayat, karena warga tak peduli asal-usul lumbungmu, yang penting lumbung itu membocori khalayak.
Di dunia persilatan, seperti berulang-ulang telah kukabarkan, mati terhormat itu mati di tangan pendekar berilmu lebih tinggi yang mereka tantang dalam pertarungan terhormat.
Ya, ilmuku lebih tinggi dibanding semuanya. Kecuali, mungkin, dibanding bocah Perawan Tingting Bakul Kedai ini. Kok bisa? Sebab, begini, suatu petang Si Genduk ini akan... Wah, kolom tulisan sudah habis, Cuk! Simak saja kelanjutanku pekan depan, ya. Sambil ngopi. Heuheuheu... (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
