Ilustrasi memasang RAM pada PC. (Christopher Flannigan)
JawaPos.com - Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kecerdasan buatan, sebagian besar perhatian publik masih diarahkan pada GPU yang dianggap sebagai pusat tenaga komputasi.
Namun ketika para analis dan insinyur menggali lebih dalam bagaimana AI bekerja, ada satu komponen yang kini memegang peranan lebih kritikal: memori.
White paper IDC berjudul “The Importance of Memory in High-Performance Computing and AI” karya Jeff Janukowicz memaparkan bahwa memori tidak lagi pelengkap sistem, melainkan fondasi kinerja AI modern.
Jeff menjelaskan bahwa AI mengubah kapasitas dan struktur data center. Dalam laporannya ia menulis bahwa “AI’s ability to analyze vast amounts of data means datacenters must now handle exponentially larger datasets” .
Pernyataan ini merangkum perubahan zaman. AI tidak hanya membutuhkan pemrosesan cepat, tetapi juga kemampuan memindahkan data dalam volume raksasa tanpa henti. Di sinilah memori menjadi batas kemampuan AI.
Beban kerja AI modern dibangun dari model yang mengandung miliaran sampai triliunan parameter. Setiap parameter itu harus tersimpan dalam memori dan dapat diakses secara paralel.
Jeff menekankan bahwa AI memerlukan high bandwidth and low latency memory untuk memindah data secara efisien dari suatu sistem. Alasannya, GPU tidak akan bekerja pada performa optimal jika arus datanya tersendat.
Dengan ukuran model yang terus bertambah, kebutuhan memori bukan hanya soal kapasitas tetapi juga soal kecepatan perpindahan data.
Tanpa memori berbandwidth tinggi, model AI tidak dapat dilatih maupun dijalankan secara efisien. Inilah alasan mengapa memori menjadi komponen paling strategis dalam infrastruktur AI.
White paper IDC menyoroti HBM atau High Bandwidth Memory sebagai inovasi besar yang menjawab kebutuhan AI.
"HBM muncul sebagai inovasi kunci yang sangat menentukan perkembangan infrastruktur AI," tulis Jeff. Alasannya, karena menawarkan bandwidth yang jauh melebihi memori tradisional sambil mempertahankan konsumsi daya yang lebih rendah .
HBM bekerja dengan struktur 3D stacked dies dan melalui teknologi through-silicon vias. Cara kerja ini membuat jalur datanya sangat lebar sehingga proses pemindahan data berlangsung lebih cepat.
GPU seperti Nvidia H100 atau AMD MI300 menjadikan HBM komponen wajib untuk mencapai performa optimal. Artinya, industri memori kini harus mengalokasikan kapasitas produksi DRAM untuk memenuhi permintaan HBM yang semakin mendominasi pasar AI.
Energi menjadi tantangan terbesar bagi data center modern. White paper IDC mengungkap, pada survei 2024, menemukan bahwa biaya listrik menyumbang 46,3 persen dari total pengeluaran operasional pusat data.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
