
Meta berinvestasi membangun pusat data baru, seperti proyek Hyperion yang sedang dikembangkan di Eagle Mountain, Utah. (The New York Times)
JawaPos.com — Perusahaan teknologi raksasa dunia kini memasuki fase baru dalam ekspansi kecerdasan buatan atau AI. Alih alih menanggung sendiri biaya pembangunan pusat data yang nilainya dapat mencapai puluhan miliar dolar AS, para pelaku utama industri memilih mengalihkan sebagian risiko finansial kepada investor dan penyedia infrastruktur pihak ketiga. Pola ini mencerminkan strategi global untuk menjaga fleksibilitas bisnis di tengah ketidakpastian permintaan jangka panjang teknologi AI.
Pusat data menjadi tulang punggung pengembangan AI, tetapi juga merupakan aset berumur panjang dengan biaya sangat besar. Dalam situasi ketika arah permintaan AI masih sulit dipastikan, perusahaan seperti Microsoft, Meta, dan Google memilih skema pendanaan yang memungkinkan ekspansi cepat tanpa mengikatkan diri pada komitmen puluhan tahun yang berpotensi membebani neraca keuangan.
Melansir The New York Times, Selasa (16/12/2025), Microsoft menandatangani serangkaian kesepakatan bernilai puluhan miliar dolar AS untuk menyewa daya komputasi bagi pengembangan AI. Meta mengamankan hampir 30 miliar dolar AS, setara sekitar Rp 499,5 triliun dengan kurs Rp 16.650 per dolar AS, untuk membangun pusat data raksasa di Louisiana tanpa mencatatnya sebagai utang. Sementara itu, Google memilih menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan yang lebih kecil dan menjual kembali sebagian daya tersebut kepada OpenAI.
Pola tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menekan eksposur risiko finansial. “Risiko itu seperti pasta gigi di dalam tube. Ketika ditekan di satu sisi, tekanan akan berpindah ke sisi lain. Risiko selalu ada; persoalannya hanya di mana beban tersebut ditempatkan,” kata Shivaram Rajgopal, profesor akuntansi di Columbia Business School. Menurutnya, dalam skema ini risiko bergeser dari perusahaan teknologi besar ke investor dan penyedia pembiayaan.
Model Meta di Louisiana menjadi contoh paling menonjol. Perusahaan membentuk entitas tujuan khusus bernama Beignet Investor LLC dan bekerja sama dengan Blue Owl Capital untuk membiayai proyek pusat data Hyperion.
Meta bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas tersebut, sementara Blue Owl menanggung sekitar 80 persen pembiayaan. Meta kemudian menyewa kembali pusat data itu melalui kontrak empat tahunan sehingga biaya dikategorikan sebagai pengeluaran operasional, bukan utang.
“Alih alih meminjam sendiri, Meta pada dasarnya menyewa risiko,” ujar Solomon Feig, pemberi kredit swasta di Pinnacle Private Credit. Penilaian senada disampaikan Andrew Rocco, analis Zacks Investment Research, yang melihat pola ini sebagai strategi sistematis. “Inti strategi Meta adalah membangun sebanyak mungkin dengan dana pihak lain,” katanya.
Namun, struktur ini menyimpan konsekuensi. Jika permintaan AI melambat, nilai pusat data dapat terdepresiasi dan beban risiko berpindah ke investor. Rajgopal mengingatkan bahwa penggunaan kendaraan pembiayaan khusus dan kredit swasta mengulang pola pembiayaan di luar neraca yang marak menjelang gelembung dot-com pada awal 2000-an. “Saya sempat berpikir praktik pembiayaan di luar neraca sudah terselesaikan. Kenyataannya, pola yang sama kembali terulang,” ujarnya.
Strategi serupa juga terlihat pada pendekatan Microsoft, meski ditempuh melalui skema yang berbeda. Perusahaan tersebut memilih kontrak jangka pendek dengan penyedia pusat data generasi baru.
Tahun ini, Microsoft menandatangani kesepakatan senilai 17 miliar dolar AS dengan Nebius, 23 miliar dolar AS dengan Nscale, serta 10 miliar dolar AS dengan Iren, selain perjanjian bernilai miliaran dolar lainnya. “Pendekatan infrastruktur global kami dibangun atas fleksibilitas, berdasarkan sinyal permintaan jangka pendek dan panjang dari pelanggan,” kata eksekutif Microsoft, Alistair Speirs.
Fleksibilitas tersebut dinilai krusial dalam menghadapi perubahan pasar. “Anda tidak ingin berada dalam posisi terbalik,” ujar CEO Microsoft Satya Nadella pada April lalu. Dalam konteks ini, Microsoft juga membuka akses OpenAI ke penyedia komputasi lain seperti Oracle, sebagai bagian dari penataan ulang pasokan global.
Di sisi lain, penyedia seperti CoreWeave menanggung risiko besar dengan mengambil utang berbunga tinggi untuk membangun kapasitas pusat data, sebagian besar terkait kontrak dengan OpenAI. Para analis menilai, risiko boom AI kini tersebar lebih luas.
“Ini langkah yang sangat cerdik. Hanya segelintir perusahaan yang mampu melakukannya,” kata Alex Platt, analis D.A. Davidson. Bagi peta ekonomi global, pergeseran ini menandai perubahan mendasar: ekspansi AI terus melaju, tetapi risikonya tidak lagi sepenuhnya berada di pundak raksasa teknologi.
***

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
