Pemanfaatan internet berbasis satelit seperti Starlink di daerah yang sudah dijangkau sinyal. (Interesting Engineering).
JawaPos.com - Ketika banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, bukan hanya akses jalan yang terputus. Jaringan komunikasi ikut lumpuh, membuat warga dan relawan kesulitan berkoordinasi di tengah situasi darurat.
Dalam kondisi seperti ini, perangkat internet berbasis satelit seperti Starlink menjadi solusi krusial untuk memulihkan konektivitas. Pemanfaatan teknologi tersebut kini dirasakan langsung di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.
Empat unit Starlink mulai dioperasikan untuk membantu menghubungkan wilayah yang sebelumnya sempat kehilangan akses internet akibat kerusakan infrastruktur telekomunikasi. Perangkat ini didistribusikan ke lokasi terdampak pada 26–30 Desember 2025 melalui Tim Relawan Independen bersama Yayasan Gerakan Memutus Rantai.
Kehadiran Starlink memungkinkan akses internet tetap berjalan tanpa bergantung pada jaringan kabel atau menara BTS yang rusak. Dalam konteks kebencanaan, konektivitas semacam ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk komunikasi darurat, pendataan korban, hingga koordinasi logistik antara relawan dan pemerintah setempat.
SVP Strategy & Business Pintu, Andy Putra, menjelaskan bahwa pengiriman perangkat satelit tersebut difokuskan untuk mendukung percepatan pemulihan komunikasi di lapangan. Menurutnya, internet berbasis satelit dapat menjadi jembatan penting ketika seluruh jaringan konvensional tidak dapat diandalkan.
“Di situasi bencana, akses internet sering kali menjadi hal pertama yang terputus. Padahal, komunikasi adalah kunci dalam penanganan darurat. Dengan Starlink, konektivitas bisa kembali tersedia meski infrastruktur darat belum sepenuhnya pulih,” ujar dia melalui keterangannya.
Pengalaman serupa disampaikan oleh Glenn Ardi, Founder & CEO Ngomongin Uang yang tergabung dalam Tim Relawan Independen. Ia menuturkan bahwa relawan sempat kesulitan mengakses beberapa titik terdampak karena minimnya sinyal. Setelah perangkat satelit diaktifkan, proses koordinasi di lapangan menjadi jauh lebih efektif.
“Starlink membantu kami tetap terhubung saat masuk ke wilayah yang sebelumnya blank spot total. Informasi bisa dikirim cepat, komunikasi dengan tim pusat berjalan, dan kebutuhan warga bisa segera dilaporkan,” kata Glenn.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh memang menyebabkan gangguan besar pada berbagai lini, termasuk jaringan telekomunikasi.
Kondisi ini menegaskan pentingnya solusi alternatif berbasis satelit sebagai bagian dari sistem tanggap darurat nasional, terutama di wilayah dengan medan sulit dijangkau. Pemanfaatan Starlink di Aceh Tamiang menjadi contoh bagaimana teknologi dapat berperan langsung dalam situasi krisis.
Ketika waktu menjadi faktor penentu keselamatan, akses internet yang stabil dapat mempercepat pengambilan keputusan dan membantu proses pemulihan berjalan lebih terarah.
Di tengah upaya bersama menangani dampak bencana, keberadaan konektivitas darurat berbasis satelit kini semakin dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar pelengkap.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
