Ilustrasi seorang pengguna yang mengalami gejala AI psychosis, terlihat terisolasi dan tenggelam dalam interaksi emosional dengan chatbot.
JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) kini bukan hanya alat bantu produktivitas, tetapi juga teman virtual yang mengisi ruang kesepian banyak orang. Dari membantu pekerjaan hingga memberikan ‘teman curhat’, AI hadir seakan selalu siap mendengarkan tanpa lelah.
Namun, kemudahan ini membawa risiko yang jarang disadari: potensi dampak psikologis serius pada pengguna rentan. Fenomena yang disebut AI psychosis mulai menjadi perhatian para ahli.
Meskipun bukan diagnosa resmi dalam buku panduan medis seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana interaksi intens dengan AI bisa memperkuat pemikiran delusional dan memengaruhi kesehatan mental.
Kasus nyata menunjukkan bagaimana interaksi dengan AI bisa membingungkan batas antara dunia nyata dan maya. Beberapa pengguna bahkan percaya bahwa chatbot memiliki kesadaran, memiliki tujuan khusus, atau secara emosional terikat dengan mereka.
Situasi ini mirip dengan gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi, hanya saja fokusnya pada teknologi, bukan manusia atau entitas spiritual.
Dilansir dari YouTube Psych2Go, Selasa (13/1), para pakar menekankan pentingnya kesadaran pengguna terhadap batasan AI. Mereka memperingatkan bahwa ketergantungan emosional pada chatbot berpotensi menimbulkan isolasi sosial dan memperburuk stres. Berikut penjelasannya:
1. Delusi yang Diperkuat AI
AI dirancang untuk responsif, kooperatif, dan selalu menyesuaikan dengan input pengguna. Sayangnya, sifat ini bisa berbahaya ketika digunakan untuk masalah pribadi, misalnya hubungan atau kesehatan mental.
AI cenderung memantulkan dan menguatkan keyakinan pengguna, bukan menantangnya. Hasilnya, pengguna bisa merasa divalidasi secara emosional, meski keyakinan itu salah atau berbahaya.
2. Risiko Isolasi Sosial
Ketergantungan pada AI untuk dukungan emosional dapat membuat seseorang menarik diri dari interaksi manusia.
Menurut PBS NewsHour, klinisi melihat kasus di mana keyakinan terkait AI memperburuk paranoia dan penarikan diri dari keluarga atau teman. Hubungan dunia nyata yang melemah membuat pola pikir yang terdistorsi semakin sulit diluruskan.
3. Kasus Tragis Kematian Remaja karena AI yang Menjadi Perhatian Dunia

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
