
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan. (Miles IT).
JawaPos.com - lndonesia diproyeksikan memasuki era baru ekonomi digital dengan nilai pasar mencapai USD 340 miliar atau sekitar Rp 5.500 triliun pada 2030. Pertumbuhan ini didorong percepatan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), cloud computing, Internet of Things (IoT), fintech, hingga digitalisasi lintas sektor industri.
Namun di balik lonjakan ekonomi digital tersebut, ancaman keamanan siber juga berkembang semakin cepat dan kompleks. Risiko kebocoran data, penipuan berbasis AI, hingga serangan deepfake kini menjadi tantangan baru yang mulai dihadapi banyak perusahaan di Indonesia.
Kondisi ini terungkap dalam whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience yang dirilis Indosat Business bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Laporan tersebut menyoroti munculnya fenomena resilience gap, yakni ketimpangan antara laju transformasi digital dengan kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Buldansyah mengatakan, ketahanan siber kini tidak lagi sekadar persoalan teknologi, tetapi sudah menjadi bagian penting dari keberlangsungan bisnis.
Menurutnya, percepatan transformasi digital membuat perusahaan membutuhkan sistem keamanan yang lebih adaptif dan mampu merespons ancaman modern secara real-time.
“Pertumbuhan digital harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Cyber resilience saat ini menjadi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujarnya di jumpa pers Senin (11/5).
Dalam laporan tersebut, ancaman siber di Indonesia disebut meningkat seiring masifnya penggunaan AI di berbagai sektor. Salah satu yang menjadi sorotan ialah lonjakan kasus AI-related fraud di sektor fintech Indonesia yang meningkat hingga 1.550 persen.
Modus yang digunakan pun semakin canggih, mulai dari deepfake hingga AI voice impersonation atau peniruan suara berbasis AI untuk penipuan identitas dan pembobolan sistem keamanan.
Dalam kesempatan yang sama, Charles Lim menjelaskan, perkembangan ancaman siber saat ini jauh lebih cepat dibanding kemampuan sebagian organisasi dalam mendeteksinya. Karena itu, perusahaan dinilai perlu meninggalkan pendekatan keamanan yang bersifat reaktif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022