
CEO Microsoft Satya Nadella memimpin perombakan besar internal perusahaan untuk menghadapi persaingan AI yang semakin agresif (Business Insider)
JawaPos.com - Transformasi besar sedang berlangsung di tubuh Microsoft. Di tengah persaingan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin agresif, Chief Executive Officer (CEO) Microsoft Satya Nadella kini membongkar struktur kepemimpinan lama perusahaan demi menciptakan organisasi yang lebih cepat, ramping, dan berorientasi teknis untuk menghadapi era AI.
Perombakan internal ini menandai perubahan budaya terbesar di Microsoft sejak perusahaan tersebut beralih ke bisnis komputasi awan atau cloud. Dengan lebih dari 220.000 karyawan di seluruh dunia, Satya Nadella menilai model birokrasi lama tidak lagi cukup kompetitif untuk menghadapi perusahaan teknologi yang bergerak jauh lebih agresif dalam pengembangan AI generatif.
Dilansir dari Business Insider, Senin (25/5/2026), Satya Nadella secara diam-diam membubarkan struktur tradisional Senior Leadership Team (SLT) yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuasaan Microsoft.
"Kami menghentikan apa yang dikenal sebagai SLT," kata seorang sumber yang bekerja dekat dengan Nadella. Sebagai gantinya, Nadella membentuk tim yang lebih kecil dan datar untuk mendekatkan pengambilan keputusan ke pengembangan produk AI.
Baca Juga:Microsoft dan Anthropic Bahas Kesepakatan Cip AI Maia di Tengah Komitmen Investasi 5 Miliar Dolar AS
Perubahan tersebut dinilai sangat besar di internal Microsoft, terutama karena perusahaan itu selama bertahun-tahun dikenal memiliki budaya kerja yang stabil dan birokratis. Pendiri Amazon Jeff Bezos bahkan pernah menyindir Microsoft sebagai "klub eksklusif yang terlalu nyaman dan elitis, tanpa tekanan besar" bagi pegawai yang dapat menjalani karier hingga pensiun.
Kini, Microsoft justru bergerak ke arah sebaliknya. "Kecepatan perubahan platform ini terjadi lebih cepat dibanding apa pun yang pernah kami lihat," ujar sumber dekat Satya Nadella.
Nadella mulai mendorong pola kerja yang lebih menyerupai startup teknologi dengan struktur yang lebih ringkas dan pengambilan keputusan yang lebih cepat. Tekanan investor juga meningkat setelah Microsoft menghadapi sorotan atas investasi AI bernilai ratusan miliar dolar AS yang kini dituntut segera menghasilkan pertumbuhan bisnis nyata.
Sebagai bagian dari reboot AI tersebut, Nadella menunjuk CEO baru untuk bisnis komersial Microsoft pada Oktober lalu agar dia dapat lebih fokus pada pekerjaan teknis. Kemudian, pada November, dia menunjuk penasihat AI baru untuk membantu merancang ulang model bisnis perusahaan. Bersamaan dengan itu, para eksekutif senior diminta memilih antara menerima budaya kerja baru yang lebih keras atau hengkang dari perusahaan.
Kini, Nadella memimpin kelompok baru bernama corporate leadership yang berisi Presiden Microsoft Brad Smith, Chief Financial Officer Amy Hood, Chief People Officer Amy Coleman, dan CEO bisnis komersial Judson Althoff. Dia juga membentuk kelompok engineering leadership berisi sekitar 35 pemimpin teknik dan produk yang bekerja dengan model menyerupai startup, yakni mempertemukan insinyur, peneliti, desainer, dan pengembang produk dalam koordinasi langsung tanpa rantai birokrasi panjang.
Pendekatan itu mulai diterapkan khusus pada pengembangan Copilot, asisten AI andalan Microsoft. Tim baru Copilot dipimpin oleh Charles Lamanna, Jacob Andreou, dan Ryan Roslansky yang bertemu langsung dengan Nadella setiap pekan. Sementara itu, nama lain seperti Pavan Davuluri dan Arun Ulag mulai muncul sebagai figur penting dalam lingkaran baru Nadella.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
