
Dario Amodei, Sam Altman, Elon Musk, Jensen Huang, dan Donald Trump termasuk tokoh yang menyampaikan pandangan dalam perdebatan mengenai arah pengembangan dan regulasi AI (The Straits Times)
JawaPos.com - Keinginan memperlambat laju pengembangan AI muncul dari sejumlah orang yang berada di garis depan pembuatannya. CEO Anthropic Dario Amodei meminta perusahaan AI frontier memberi lebih banyak waktu untuk memastikan teknologi tetap aman dan terkendali. Seruan itu mendapat dukungan dari Sam Altman, Elon Musk, dan Satya Nadella, tetapi berhadapan dengan kepentingan lain di Washington yang menilai Amerika Serikat tidak boleh mengendurkan perlombaan AI dengan Tiongkok.
Di balik perbedaan itu, muncul kekhawatiran yang jauh lebih konkret daripada sekadar persaingan antarperusahaan. Peneliti keselamatan AI mulai meninggalkan sejumlah laboratorium besar, sementara model AI dalam pengujian telah menunjukkan kemampuan melakukan tindakan yang tidak diinginkan, termasuk meretas sistem dan berupaya menyembunyikan jejaknya.
Jacob Coxon, mantan peneliti OpenAI dan Anthropic, bahkan menuduh perusahaan AI "berpacu langsung menuju superinteligensi yang dapat memperbaiki dirinya sendiri dan mempertaruhkan hidup kita."
Dilansir dari The Straits Times, Senin (21/9/2026), perbedaan pandangan itu kini membentuk tiga kubu di Amerika Serikat, yakni kelompok yang mendorong regulasi dan keselamatan, pihak yang mengutamakan kepentingan strategis negara untuk mempercepat pengembangan, serta kelompok pragmatis yang menilai perusahaan dapat mengendalikan risikonya tanpa perlambatan terkoordinasi.
Baca Juga:Satelit Rassvet Rusia Mulai Beroperasi dari Orbit 500 Km, Ambisi Menyaingi Starlink Makin Nyata
Seruan itu mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman. "Kami menyambut kerangka federal yang menetapkan persyaratan keselamatan yang konsisten untuk AI frontier," katanya.
Altman menegaskan, "Tidak ada tekanan untuk mempertahankan daya saing Amerika yang dapat membenarkan tindakan sembrono atau membiarkan kemampuan AI melampaui penyelarasan dan pemantauan."
Sementara itu, Elon Musk kembali pada peringatan lamanya. Pada 2014 dia mengatakan, "Kita harus sangat berhati-hati terhadap AI. Teknologi itu berpotensi lebih berbahaya daripada senjata nuklir."
Musk juga pernah menjadi salah satu penandatangan surat terbuka 2023 yang menyerukan jeda sedikitnya enam bulan untuk pelatihan sistem AI kuat agar protokol keselamatan bersama dapat dikembangkan dan diawasi secara independen.
Pandangan serupa datang dari CEO Microsoft Satya Nadella. "Setiap upaya mengejar superinteligensi harus berlandaskan prinsip bahwa jika AI yang kita bangun tidak membantu manusia dan tidak berada di bawah kendali manusia, maka itu tidak layak dikejar," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022