
LEZAT: Berkemah sambil memasak bersama menjadi salah satu cara yang digemari para pengunjung di Bumi Perkemahan Bedengan. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Kamping bisa jadi pilihan untuk berwisata. Berbaur dengan alam nan tenang mampu melepas penat akibat rutinitas yang padat. Kini makin banyak destinasi wisata perkemahan yang bisa dikunjungi. Salah satunya di Kabupaten Malang.
---
JARUM jam menunjukkan pukul 10 malam. Di tengah suasana yang begitu lindap, Jawa Pos menyusuri jalanan bebatuan menuju Bumi Perkemahan Bedengan di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Suasana gulita perlahan hilang ketika cahaya lampu di pintu masuk perkemahan berpendar. Di sana belasan sepeda motor terparkir. Petugas loket langsung memberikan tiket tanda masuk plus karcis parkir yang harus kami bawa.
”Lokasi tenda bisa di sana, di situ, dan di atas,” ujar Supriyadi, petugas lapangan Bumi Perkemahan Bedengan, sambil memberikan petunjuk lewat sinar senter miliknya.
Dia lantas menyarankan kami untuk menuju ground A, B, atau C. Bukan tanpa alasan. Di sana kontur tanahnya landai, dekat dengan toilet, serta menjadi favorit pengunjung yang membawa keluarga.
Setelah menuruni jalan setapak dan jembatan kayu, kami pun tiba di lokasi. Bersanding dengan bibir sungai dengan air terlihat berwarna keperakan karena disinari bulan purnama.
Selesai membangun tenda, hawa dingin mulai menembus kulit ketika kami mulai bersantai. Makin lama makin menusuk tulang, terutama ketika badan tidak banyak bergerak. Namun, tidak usah khawatir kedinginan. Sebab, pengelola menyediakan kayu bakar yang bisa dibeli pengunjung. Harganya cukup terjangkau. Lengkap dengan getah pinus sebagai penyulut. Api unggun bisa dibuat dengan cukup mudah.
Di samping tenda, terlihat empat pemuda meriung. Sambil memetik gitar memecah kesunyian malam. Hawa Bedengan yang dingin disertai iringan senda gurau dengan teman bertualang mampu menjadi penghilang penat yang pas.
Saat sinar matahari pagi menyapa, suasana Bumi Perkemahan Bedengan mulai ramai. Pengunjung berdatangan mencari tempat berkumpul. Ya, selain sebagai tempat kamping, Bedengan bisa dijadikan wahana bersantai.
Misalnya, yang dilakukan Cindy bersama tiga temannya. Mereka menggelar tikar, lalu memasak daging di atas kompor gas. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sengaja datang ke Bedengan untuk melepas rindu. ”Sekalian kumpul-kumpul sebelum lulus kuliah,” katanya.
Pagi hari, makin banyak pengunjung yang datang ke Bedengan. Sebagian besar adalah keluarga. Mereka vacation di bawah pohon pinus. Sambil mendengar gemericik air Kalisat yang mengular di sepanjang ground Bedengan. ”Semua area ground di Bedengan memang dilewati sungai,” ungkap Supriadi.
Sungai Kalisat bersumber langsung dari Gunung Butak. Airnya jernih. Bisa dipakai pengunjung untuk memasak.
Bumi Perkemahan Bedengan memiliki luas 26 hektare. Pengunjung bisa memilih 12 area yang bisa ditempati untuk mendirikan tenda. Fasilitas di sana cukup lengkap. Kamar mandinya bersih.
Bagi yang mengajak anak, ada area bermain. Jika kekurangan makanan, pengunjung bisa membeli makanan di tiga warung di tengah perkemahan.
Photo
ALAMI: Dua pengunjung sedang bersantai di pelataran gerbang masuk Camping Ground Pakis di kawasan Precet Forest Park. (Edi Susilo/Jawa Pos)
Saat Jawa Pos singgah di sana, terlihat dua pemuda yang duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi. Sementara itu, di area ground kosong tanpa ada secungkup tenda pun yang didirikan. ”Biasanya kalau akhir pekan baru ramai,” kata Khoirul Anam, salah seorang pemuda.
Kawasan perkemahan itu masih cukup alami. Di balik pepohonan pinus yang rapat, seekor elang tampak terbang memutar mencari mangsa. Di bawah pohon-pohon, terlihat tupai-tupai berlarian. Seolah tahu bahwa ada ancaman yang mengintip di balik pucuk pinus.
Camping Ground Pakis biasanya menjadi tempat beristirahat para pendaki sebelum naik ke puncak Batu Tulis, salah satu puncak di Gunung Kawi. Mereka menghabiskan malam sebelum naik ke puncak untuk menyambut sunrise.
Sekretaris Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jatmiko Adi mengatakan, saat ini pengelola tengah giat untuk mengembalikan keanekaragaman ekosistem di kawasan Precet.
Perburuan hewan liar terus dicegah agar fauna di kawasan tersebut tak surut. ”Selain elang, informasinya ada macan tutul,” ucapnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
