
Desa Trunyan Bali, miliki tradisi pemakaman yang unik dan bikin merinding.
JawaPos.com – Pulau Dewata Bali memang memiliki magnet tersendiri bagi wisatawan yang ingin menjalani liburan, baik warga lokal maupun mancanegara.
Selain banyaknya tempat wisata, tradisi yang kental di kota yang juga dijuluki sebagai 'Seribu Pura' ini, memang membuat wisatawan selalu terpukau.
Salah satunya adalah tradisi yang ada di Desa Trunyan yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
Selain terkenal memiliki pemandangan alam yang sangat indah, desa ini juga mempunyai tradisi dan adat istiadat yang masih terjaga hingga saat ini.
Dilansir JawaPos.com dari Dinas Pariwisata Bali, Desa Trunyan memiliki tradisi pemakaman yang unik dan berbeda dari pemakaman lainnya.
Metode pemakaman bernama “Mepasah” ini sudah dilakukan secara turun-temurun.
Bali merupakan kota yang dihuni oleh mayoritas umat beragama Hindu, yang mana dalam ajaran Hindu, orang yang sudah meninggal akan dimakamkan dengan cara dikremasi atau dalam bahasa Bali sering disebut Ngaben.
Namun, hal ini tidak berlaku di Desa Trunyan Bali yang memang sudah memiliki tradisi sendiri untuk menguburkan jenazah warganya.
Di sana warga melakukan pemakaman dengan cara meninggalkan tubuh orang yang sudah meninggal di bawah pohon tanpa perlu dikremasi.
Jenazah atau mayat tersebut sengaja dibiarkan membusuk di permukaan tanah yang dangkal, berbentuk cekungan panjang di udara yang terbuka.
Menariknya, jenazah tersebut tidak mengeluarkan bau busuk dan tidak dihinggapi serangga atau ulat.
Hal tersebut bisa terjadi karena bau harum yang dikeluarkan oleh pohon besar bernama Taru Menyan yang ada di sekitar tempat pemakaman.
Melansir Portal Informasi Indonesia, (8/11) dikatakan bahwa dalam sejarahnya, asal-usul pemakaman ala Mepasah ini bermula dari Ratu Sakti Pancering Jagat saat dahulu masih menjadi raja di Trunyan.
Perintah pemakaman itu dilakukan dengan niat untuk mengurangi dampak harum pohon Taru Menyan yang menyebar ke mana-mana.
Istilah pemakaman “Mepasah” sendiri bukanlah nama pemberian dari masyarakat Desa Trunyan, melainkan nama yang diberikan oleh masyarakat Hindu-Bali.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
