
Machu Picchu, simbol kejayaan Inca sekaligus destinasi warisan dunia yang memikat perhatian global. (Peru Travel)
JawaPos.com - Machu Picchu dianggap sebagai salah satu pencapaian urban paling mengagumkan dari Kekaisaran Inca pada masa jayanya. Dinding raksasa, teras-teras, hingga jalur bebatuan tampak seolah muncul alami dari tebing gunung yang curam.
Dilansir dari UNESCO, Machu Picchu berdiri di ketinggian 2.430 m di atas permukaan laut, tepat di tengah hutan pegunungan tropis yang menawarkan panorama luar biasa. Terletak di lereng timur Pegunungan Andes, kawasan ini juga meliputi bagian hulu Cekungan Amazon yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna.
Menurut Smart History, Machu Picchu kerap digambarkan sebagai situs yang “misterius”. Namun, sejatinya banyak hal sudah diketahui mengenai konstruksi dan tujuan pembangunannya. Situs ini dibangun sebagai tempat peristirahatan kerajaan bagi kaisar pertama Inca, Pachacuti Inca Yupanqui, pada pertengahan abad ke-15.
Berada di gunung yang menghadap ke Sungai Urubamba di Peru, lokasinya berjarak sekitar tiga hari berjalan kaki dari ibu kota Inca, Cusco, dengan ketinggian lebih rendah sekitar 900 m sehingga beriklim lebih sejuk. Tempat ini dirancang untuk menggelar perjamuan, upacara keagamaan, hingga mengelola urusan kerajaan.
Tak hanya itu, keberadaan Machu Picchu juga dimaksudkan untuk menegaskan klaim tanah yang nantinya diwariskan kepada garis keturunan sang kaisar. Pemilihan lokasi tak terlepas dari hubungan sakral dengan lanskap Andes, termasuk garis pandang ke puncak-puncak gunung yang disebut apus, yang sejak lama dipandang sebagai dewa leluhur.
Machu Picchu memiliki beragam fasilitas mulai dari rumah bagi kaum elit hingga staf pemelihara, kuil-kuil, air mancur, dan teras pertanian. Ciri khas seni Inca juga terlihat dari pahatan batu alam yang dibiarkan menyatu dengan struktur bangunan. Teras pertanian, yang sudah dikenal jauh sebelum era Inca, berfungsi memperluas lahan garapan sekaligus mencegah erosi. Masing-masing undakan dapat ditanami berbagai tanaman, termasuk jagung yang penting secara ritual.
Sistem pengelolaan air di Machu Picchu juga menjadi sorotan. Serangkaian saluran batu mengalirkan air hujan serta mata air menuju situs, termasuk ke 16 air mancur yang berderet menuruni ketinggian. Air mancur pertama terletak di depan kompleks kaisar, yang diyakini berfungsi sebagai tempat mandi ritual, sejalan dengan statusnya sebagai raja suci yang memimpin upacara keagamaan.
Bangunan utama Machu Picchu menampilkan ciri arsitektur khas elit Inca. Dinding-dindingnya disusun dari batu-batu yang dipahat secara unik hingga saling mengunci rapat. Teknik ini tidak hanya menciptakan struktur kokoh, tetapi juga memungkinkan peredaman guncangan gempa di kawasan rawan seismik tersebut.
Permukaan luar dinding dipoles halus hingga menyerupai mosaik rumit. Atap bangunan umumnya terbuat dari kayu dan jerami, sementara pintu, jendela, dan relung menggunakan bentuk trapezoid khas Inca. Bangunan dengan fungsi dan status lebih rendah dibuat menggunakan teknik yang lebih sederhana, tanpa pemahatan detail pada batu.
Dikutip dari National Geographic, riset modern turut merevisi sejumlah pandangan tentang Machu Picchu. Penelitian John Rowe, Richard Burger, dan Lucy Salazar-Burger menunjukkan bahwa situs ini bukanlah benteng pertahanan, melainkan tempat peristirahatan yang dibangun khusus oleh dan untuk Kaisar Pachacuti.
Burger menambahkan, Machu Picchu juga menjadi pelarian bagi kalangan elit dari hiruk pikuk kehidupan kota. Brian Bauer, pakar peradaban Andes dari University of Illinois at Chicago, menyebutkan bahwa meski dibangun sekitar tahun 1450 M, Machu Picchu sebenarnya relatif kecil menurut standar Inca, dengan populasi hanya sekitar 500 hingga 750 orang.
Bauer menegaskan, bukti arkeologis memperlihatkan bahwa Machu Picchu tidak hanya dihuni oleh orang Inca. Adanya variasi bentuk tengkorak yang dikaitkan dengan tradisi pemodelan kepala dari pesisir maupun dataran tinggi, serta ditemukannya keramik dari berbagai wilayah, bahkan hingga Danau Titicaca, menunjukkan bahwa penghuni Machu Picchu berasal dari beragam latar belakang etnis.
Dari sisi pertanian, penduduk Machu Picchu memanfaatkan teras besar di sekitarnya, meski diperkirakan hasilnya tak cukup menopang kebutuhan harian sehingga bercocok tanam juga dilakukan di perbukitan sekitar. Sementara itu, Dr. Johan Reinhard, peneliti National Geographic, mengungkapkan bahwa Machu Picchu dibangun di pusat lanskap sakral.
Lokasinya hampir dikelilingi Sungai Urubamba yang hingga kini masih dihormati masyarakat setempat. Gunung-gunung yang mengapit situs juga dianggap sebagai formasi sakral. “Jika dipandang secara keseluruhan, Machu Picchu menjadi pusat kosmologis, hidrologis, dan geografis sakral bagi wilayah yang luas,” jelas Reinhard, dikutip dari National Geographic.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
