Pemudik menunggu bus yang akan membawa mereka ke kampung halaman di Terminal bayangan Pondok Pinang, Jakarta, Selasa (2/4/2024). Warga memilih mudik lebih awal untuk menghindari kemacetan dan kenaikan harga tiket bus.
JawaPos.com - Menjelang mudik Lebaran 2026, satu pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: kenapa harga tiket bus bisa melonjak tajam? Setiap tahun fenomena ini terulang, dan tidak sedikit calon pemudik yang merasa kaget saat melihat tarif yang jauh lebih tinggi dibanding hari biasa.
Padahal, kenaikan harga tiket bus bukan semata-mata karena 'musim panen' apalagi 'aji mumpung' perusahaan otobus (PO). Ada sejumlah faktor yang bekerja secara bersamaan, mulai dari hukum ekonomi sederhana hingga biaya operasional yang jarang disadari penumpang.
Berikut empat faktor utama yang perlu dipahami sebelum berburu tiket mudik Idul Fitri 2026.
1. Lonjakan Permintaan, Kursi Tetap Terbatas
Hukum supply and demand masih menjadi faktor paling dominan. Saat jutaan orang bergerak hampir dalam waktu bersamaan untuk pulang kampung, permintaan tiket melonjak drastis.
Bus menjadi pilihan favorit karena jangkauannya luas hingga kota kecil dan tarifnya relatif terjangkau dibanding moda lain. Namun, jumlah armada dan kursi tidak bisa bertambah secara instan.
Dalam kondisi normal, satu bus mungkin hanya melayani rute reguler dengan okupansi stabil. Tapi saat musim mudik, kursi bisa habis dalam hitungan jam setelah penjualan dibuka. Ketika permintaan jauh melampaui ketersediaan, harga pun terdorong naik.
Itulah sebabnya tiket untuk tanggal-tanggal favorit—H-5 sampai H-2 Lebaran—biasanya paling mahal.
Tipsnya, jika ingin harga lebih bersahabat, pertimbangkan berangkat lebih awal atau memilih hari kerja yang bukan puncak arus mudik.
2. 'Empty Run' Perjalanan Pulang Tanpa Penumpang
Banyak yang belum tahu bahwa bus tidak selalu membawa penumpang di kedua arah. Dalam banyak kasus, bus mengantar pemudik ke kampung halaman, lalu harus kembali ke kota asal dalam kondisi kosong untuk menjemput gelombang berikutnya.
Perjalanan tanpa penumpang ini dikenal sebagai empty run. Meski kosong, biaya tetap berjalan: bahan bakar, tol, gaji kru, hingga penyusutan nilai dan komponen kendaraan.
Untuk menutup biaya tersebut, perusahaan biasanya menyesuaikan tarif saat periode padat. Kenaikan inilah yang sering disebut masyarakat sebagai 'tuslah'.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain AC Milan vs Venezia: Fisik Adrien Rabiot Belum Siap, Rafael Leao Absen
