
LEGENDA PANAHAN: Lilies Handayani (kanan) bersama aktris Chelsea Islan yang memerankan Lilies di film 3 Srikandi. (Dok. Lilies Handayani untuk Jawa Pos)
Lilies Handayani dikenal sebagai bagian dari tiga srikandi yang merebut medali pertama untuk Indonesia pada Olimpiade Seoul 1988. Sosoknya diperankan Chelsea Islan dalam film 3 Srikandi yang tayang pada 2016. Sekarang Lilies yang berkarier sebagai pegawai di Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga masih aktif memajukan olahraga panahan untuk melahirkan bibit-bibit muda. Kepada Jawa Pos, Lilies menceritakan kesibukannya sekarang.
Halo, apa kabar, Bu Lilies?
Luar biasa.
Saat ini apa saja kegiatan utama yang dijalani?
Kegiatan sehari-hari saya kerja di Bapenda (Badan Pendapatan Daerah Pemprov Jawa Timur, Red). Saya kebetulan pegang kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPT PPD) Surabaya Utara. Ya, terkait dengan pajak kendaraan bermotor. Ya, itu sibuk bagaimana di wilayah Surabaya Utara. Kalau di Surabaya ini sudah 1,5 tahun belakangan. Sebelumnya tugas di Nganjuk.
Kalau untuk kegiatan di panahan?
Masih juga di Lilies Handayani Srikandi Archery School (LHSAS) dan pelatda (Jawa Timur). Ya, karena ada kegiatan ini di UPT PPD, paling saya bisa aktif di panahan Sabtu dan Minggu.
Bagaimana ceritanya bisa membuat klub?
Waktu 1985 saya pergi ke Miami, Amerika Serikat. Pada tahun itu saya lihat di sana lapangannya luas. Se-Lapangan Brawijaya, Kediri, itu loh bisa dua atau tiga kali lipatnya. Pada waktu itu kalau nggak salah kejuaraan nasionalnya Amerika. Jadi ngumpul semua full dari anak kecil sampai SMA. Tapi buanyak sekali.
Jadi, itu yang menjadi motivasi utama Bu Lilies untuk membuat klub?
Pada saat itu, tahun 1985, di Jawa Timur atlet kecil tidak ada. Paling kecil aku paling. Umur SMA kelas II. Dari situ saya terinspirasi bagaimana ya kalau Jawa Timur bisa seperti ini. Lapangan bisa segede itu. Akhirnya ya sudah, saya mengawali itu. Terus teman-teman support.
Sampai dapat anak-anak banyak dari seluruh Jawa Timur, awal-awal ada anak kecil di daerah tidak punya. Makanya, produknya Riau (Riau Ega Agatha, Red), Anis (Diananda Choirunisa), Dinda (Dellie Threesyadinda), dan Della (Della Adisty Handayani). Saya bina kecil-kecil itu. Sekarang sudah banyak. Alhamdulillah, sekarang event mulai SD sudah ada, mulai SD dan SMP. Dulu kan nggak ada.
Jawa Timur dikenal sebagai penyumbang terbanyak atlet panahan di pelatnas dan juara Pekan Olahraga Nasional (PON) di 40 tahun terakhir. Ini menjadi buah dari kerja keras di awal itu?
Iya. Kita memang istilahnya pionir. Meskipun sekarang banyak bermunculan. Kalau dulu dari DIJ dan Jawa Tengah agak kaget kalau Jawa Timur sudah banyak. Sekarang di mana-mana sudah banyak atlet dan klub dan diakomodasi dinas pendidikan. Ada lomba. Kalau di kami sudah punya sistem dan materi (atlet) banyak. Jadi terus berjenjang.
Apakah PON ke depan seharusnya tidak diikuti atlet pelatnas untuk mencari bibit lain dan regenerasi?
Seperti PON tidaklah menjadi momok untuk para pengurus dan pelatih. Justru untuk memacu atlet mempertahankan prestasinya. Karena di sini event yang ditunggu-tunggu para atlet, bukan pengurus, karena ada reward-nya dan tidak sedikit. Pertanyaannya, bisakah pengurus atau pemerintah mengganti reward tanpa ada event? Kalau bisa, oke gak papa. Artinya, atlet (pelatnas) sudah jelas penghasilannya kalau tidak diperbolehkan mengikuti PON. PON means kegiatan dinas luar yang ada reward-nya seperti pegawai, Mas. Hehehe… Saya pernah jadi atlet dan saya bisa merasakan suka dan dukanya.
Sejauh ini sampai di mana pengurus atau pemerintah menghargai para atlet bila tidak diperbolehkan main di PON?
Oke, kalau yang sudah bagus, pasti dapat emas dan reward-nya. Tapi, kalau yang lagi menanjak bagaimana? Paling tidak bisa menduduki ranking kedua dan ketiga, terlihat prestasinya di kancah nasional dan pemprov. Bangga dan ada reward. Ini adalah ukuran juga (untuk masuk, Red) ke pelatnas.
Pesan untuk para atlet sekarang?
Tapi, tetap saya tidak mau men-judge untuk yang ikut (latihan) menjadi atlet meskipun dia bagus. Dia mau kerja (di bidang lain) ya monggo. Kalau aku sih ya cuma membagikan dan mencari siapa yang mau. Yang tidak silakan. Kita fokusnya ya mencari saja.
LILIES HANDAYANI
Lahir di Surabaya pada 15 April 1965
- Prestasi terbesar sebagai atlet meraih medali perak Olimpiade Seoul 1988
KESIBUKAN SAAT INI:
- Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPT PPD) Surabaya Utara
- Melatih di Lilies Handayani Srikandi Archery School (LHSAS) dan Pelatda Jawa Timur
HOBI LAIN:
- Mengoleksi tanaman hias seperti berbagai jenis anthurium, Hoya imperialis, lidah gajah, anggrek, begonia polkadot, Philodendron plowmanii, dan lain-lain

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
