
HARUS INDEN: Durian boneng berukuran cukup besar. Beratnya mencapai 4 kg. Daging buahnya juga sangat tebal. (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi)
Nama Banyuwangi tak boleh dilewatkan dari daftar daerah penghasil durian asal Jatim. Di sana, beragam durian varietas lokal tumbuh subur. Bahkan, ada yang sudah tersohor seantero negeri hingga mancanegara.
BANYAK yang menyebut Banyuwangi adalah surga durian di ujung timur Pulau Jawa. Sembilan di antara 25 kecamatan di kabupaten ini merupakan penghasil durian. Mulai Songgon, Kalipuro, Kabat, Licin, Glagah, Giri, Glenmore, Pesanggaran, hingga Kalibaru.
Berdasar data Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta-Pangan) Banyuwangi, 790 hektare lahan di kabupaten itu menjadi area budi daya durian. Kuantitas produksinya juga banyak. Rata-rata mencapai 12.047 ton per tahun.
Tak cuma hasil panennya yang melimpah, durian-durian lokal di kabupaten berjuluk ”Bumi Blambangan” itu juga dikenal akan kualitasnya. Sebagian di antaranya sudah sangat populer dan menjadi buruan para pencinta ”si raja dari segala buah” tersebut.
Slamet Hariyadi, salah seorang pembudi daya durian Banyuwangi, menceritakan, begitu banyak varietas lokal asal kabupaten ujung timur Jatim itu. Mulai si boneng, si oranye, si merah, pelangi, hingga durian lokalan lain.”Rata-rata durian lokal Banyuwangi memiliki rasa manis, legit, dan pahit. Setiap varietas punya keunggulan masing-masing,” ujarnya.
Dari sekian banyak varietas lokal itu, beberapa kini sangat populer dan menjadi buruan. Salah satunya adalah si boneng. Varietas tersebut masuk daftar durian populer dan paling di-uber penggemar. Durian itu berasal dari Kecamatan Songgon.
Durian si boneng dikembangkan Slamet Hariyadi. Nama durian tersebut terinspirasi dari nama julukan Slamet sejak kecil, yakni boneng. ”Durian si boneng sedang populer. Bahkan, penggemarnya sudah sampai mancanegara. Di antaranya, Tiongkok dan Malaysia,” ujarnya.
Durian tersebut mempunyai keunggulan dari segi ukuran. Beratnya bisa mencapai 4 kg. Rasanya manis legit dan ada sedikit rasa pahit. Daging buahnya sangat tebal. ”Lebih tebal daripada durian montong. Bahkan, terkadang tidak berbiji sama sekali,” katanya.
Sejatinya, si boneng juga sudah ada dari dulu di Songgon. Pohonnya sangat besar dan sudah berusia puluhan tahun. Namun, durian si boneng baru booming sekitar tiga tahun terakhir.
Sejauh ini, hanya ada satu pohon induk dan sekitar 20 pohon hasil stek. Kini, pohon-pohon tersebut mulai berbuah. Dalam satu musim panen, ada yang berbuah 20 hingga 50 butir. ”Sedangkan pohon induk mampu berbuah sebanyak 300 butir sampai 500 butir,” kata pria yang beralamat di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Songgon, tersebut.
Pada musim kali ini, imbuh Slamet, jumlah durian si boneng yang bisa dipanen diprediksi mencapai 500–700 butir. Jumlah tersebut belum sebanding dengan jumlah permintaan. ”Sudah banyak yang inden. Namun, kami tolak. Khawatir ada pelanggan yang kecewa karena kehabisan stok. Lebih baik menunggu panen raya pada Maret sampai April,” tuturnya.
Soal harga, satu butir durian si boneng dijual mencapai ratusan ribu rupiah. Rata-rata dibanderol Rp 150 ribu. Bahkan, ada pula yang terjual sampai Rp 250 ribu per butir. ”Harganya memang bervariasi. Bergantung ukuran buah durian tersebut,” terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
