← Beranda
Kualitas Udara di 6 Provinsi Utama Karhutla Berbahaya dan Sangat Tidak Sehat
Syahrul Yunizar• Selasa, 13 Oktober 2026 | 23.20 WIB
Warga berperahu di tengah kabut asap karhutla di Sungai Mentaya Sampit, Kabupaten Kotim. (Akbar/Radar Sampit)

JawaPos.com- Kualitas udara di enam provinsi utama sebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa (13/10) tercatat dalam keadaan berbahaya, dan ada yang sangat tidak sehat.

Data kualitas udara itu cocok dengan keluhan yang disampaikan masyarakat terdampak karhutla belakangan ini. 

Pada pukul 14.41 WIB, data itu bahwa kualitas udara berbahaya tercatat di lima daerah utama karhutla.

Yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Jarak pandang di lima wilayah tersebut antara 0,2 kilometer-8 kilometer. 

Baca Juga: Kemenhut Tangani 290 Satwa Liar Korban Karhutla, Termasuk 96 Orangutan

Sementara di Kalimantan Barat (Kalbar), kualitas udara hari ini terdeteksi sangat tidak sehat dengan jarak pandang 0,2-7 kilometer.

Dilansir dari Radar Sampit (Jawa Pos Group), hingga Senin (12/10) asap karhutla masih menyelimuti Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

”Mata makin perih, kabut asap begitu pekatnya. Tampaknya merata tebalnya di Sampit,” keluh Didi, salah seorang warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Berdasar data dari BMKG Kotim, jarak pandang di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit pada pukul 08.00 WIB kemarin berada pada angka 200 meter.

Satu jam kemudian, tepatnya pukul 09.00 WIB, asap makin pekat dan jarak pandang turun menjadi 100 meter saja. 

Baca Juga: Malaysia Tunggu Jawaban Indonesia soal Tawaran Bantuan Penanganan Karhutla

Tak hanya di Kotim, masalah asap karhutla juga dilaporkan terjadi di wilayah Kota Palangka Raya, ibu kota Kalteng. 

Asap membuat kasus gangguan pernapasan meningkat. Dilaporkan bahwa kondisi itu sudah terjadi berbulan-bulan, dan warga harus menghadapi kualitas udara buruk setiap hari. 

Data kesehatan yang dihimpun pada pekan pertama Oktober 2026 mencatat 5.031 kasus baru infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.127 kasus diare.

Angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa karhutla bukan cuma persoalan hutan dan lahan, melainkan juga berimbas pada isu kesehatan. 

Kepala UPTD Puskesmas Bukit Hindu Hellyana menyampaikan bahwa keluhan saluran pernapasan mendominasi pasien yang datang berobat.

Baca Juga: ISPA di Banjarbaru Kalsel Melonjak 50 Persen Imbas Karhutla, Tembus 198.106 Kasus

Menurut dia, kondisi kualitas udara yang buruk menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Asap pekat jadi salah satu penyebabnya.

”Kebanyakan pasien yang datang mengeluhkan sakit saluran pernapasan. Memang terjadi peningkatan, terutama karena polusi udara yang bisa dikatakan berbahaya. Terus meningkat masyarakat terpapar ISPA,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan pasien, pelayanan unit gawat darurat (UGD) dan Rumah Oksigen di Puskesmas Menteng disiagakan selama 24 jam.

Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu penanganan pasien dengan gangguan pernapasan dan ISPA.

”Semoga segera berlalu. Dan langkah konkret itu dilakukan pemerintah kota untuk masyarakat,” harapnya.

Baca Juga: Gara-gara Karhutla Indonesia, Singapura Catat Kualitas Udara Terburuk di 2026

Terpisah, Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan menyampaikan beberapa langkah yang sudah dilakukan untuk memitigasi dampak karhutla pada msayarakat.

”Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan asma, penyakit paru, atau penyakit jantung perlu mendapatkan perhatian khusus,” kata dia.

Untuk sementara, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Warga diwajibkan menggunakan masker respirator seperti N95 ketika terpaksa beraktivitas di luar ruangan atau rumah. Selain itu, warga diajak menjaga agar asap tidak mudah masuk ke dalam rumah. 

”Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara di ruangan tertutup,” ucap Berton.

Baca Juga: Malaysia-Singapura Kena Asap Karhutla, Kepala Bakom: Hutan Kita juga Kirim Oksigen

Selain itu, BNPB berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dinas kesehatan, dan pemerintah daerah agar puskesmas serta rumah sakit di wilayah terdampak siap menangani warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap karhutla. 

”Pemantauan keluhan kesehatan, ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, dan kebutuhan pelayanan rujukan perlu disesuaikan dengan perkembangan situasi,” imbuhnya. 

Berton menambahkan, langkah perlindungan tambahan sudah disiapkan untuk mengantisipasi bila kondisi memburuk.

Pemda perlu mempertimbangkan langkah sesuai kondisi setempat. Mulai pembagian masker, penyediaan ruang terlindung dari asap dengan ventilasi dan penyaringan udara yang memadai, serta penyesuaian kegiatan sekolah atau aktivitas luar ruangan. 

”Kebijakan seperti pembelajaran jarak jauh harus mempertimbangkan data kualitas udara dan kebutuhan perlindungan masyarakat,” jelas dia. 

Baca Juga: Menhut Raja Juli Sebut Siaga Karhutla Masih Sebulan Lagi

Tidak kalah penting, percepatan pengendalian sumber asap. Berton menyatakan, perlindungan kesehatan tidak akan cukup jika kebakaran terus berlangsung.

Karena itu, operasi pemadaman darat, dukungan udara, pendinginan lahan gambut, dan pemantauan pasca pemadaman tetap menjadi prioritas.

 

EDITOR: Bayu Putra