JawaPos.com - Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) La Tansa Cipanas KH Adrian Mafatihullah Karim memberikan refleksi mendalam mengenai filosofi perjuangan dan pengorbanan seorang lelaki sebagai kepala keluarga.
Hal tersebut disampaikan di hadapan para pengunjung pameran Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Assembly Hall & Lower Level Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat (2/10).
Kiai Adrian menegaskan, sosok lelaki memikul peran ganda yang sangat mendasar. Menjadi perlindungan yang hangat bagi keluarga (father), sekaligus pejuang pantang menyerah di luar rumah (fighter).
Baca Juga: Masa Sekolah Cak Nun hingga Eross Sheila on 7 di MUHI Diabadikan Dalam Sebuah Buku
Kiai Adrian menyampaikan, di balik ketenangan dan ketegaran yang ditunjukkan lelaki di hadapan anak dan istrinya, sering tersimpan beban hidup yang sangat berat.
Namun, seluruh kepedihan tersebut ditanggung secara mandiri demi memastikan keberlangsungan dan kebahagiaan keluarganya.
”Di balik punggung yang kokoh dan senyum yang selalu tampak tenang, tersimpan badai luka yang tak pernah diizinkannya terlihat. Ini adalah potret jujur tentang seorang lelaki yang menelan setiap kepedihan hidup mentah-mentah, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi melihat keluarganya tetap bernapas dan bertahan di dunia,” ujar KH Adrian Mafatihullah Karim di panggung utama IIBF 2026.
Baca Juga: Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022), Ikhtisar Arsip Dokter Pecinta Seni
Kiai Adrian menekankan bahwa tanggung jawab sebagai kepala keluarga menuntut ketangguhan lahir dan batin.
Di luar rumah, seorang lelaki harus bertarung menembus berbagai dinamika dan tantangan zaman demi menunaikan kewajiban nafkah.
”Menjadi kepala keluarga berarti memikul dunia di atas pundak, bahkan saat dunia itu perlahan meremukkan tulang-tulangmu. Ketangguhan terbesar seorang lelaki sering kali lahir dari tangisan yang tertahan dan luka yang sengaja dibiarkan berdarah dalam diam, demi satu alasan. Keluarga,” lanjut Pimpinan Ponpes La Tansa tersebut.
Nilai-nilai kepemimpinan dan perjuangan ini diharapkan dapat menjadi cermin bagi para pengunjung IIBF 2026 serta masyarakat luas dalam memahami hakikat pengorbanan seorang pejuang nafkah.
Lelaki mengajarkan arti ketegaran bukan dengan menghindari derita, melainkan dengan terus melangkah demi orang-orang yang dicintainya.
”Lelaki sering kali diajarkan untuk tidak mengeluh, bahkan ketika hidup menghujam bertubi-tubi. Ini menembus lapisan topeng ketegaran tersebut untuk memperlihatkan sisi paling rapuh dari seorang pejuang nafkah: sesosok manusia yang terus melangkah menembus gelap, berdarah-darah di sepanjang jalan, semata-mata agar keluarganya tetap memiliki rumah untuk pulang,” ucap Kiai Adrian.
Baca Juga: Borneo 25 dan Vaksin Rahasia: Suara Sunyi Sastra Sains di Era Digital
Melalui pesan mendalam di ajang IIBF 2026 ini, KH Adrian Mafatihullah Karim mengajak umat dan masyarakat untuk lebih memaknai serta mengapresiasi peran vital kepala keluarga yang senantiasa berdiri kokoh sebagai pelindung rumah tangga sekaligus pejuang tangguh di tengah arus kehidupan.