← Beranda
Penyandang Disabilitas Netra Sulit Mandiri, Bekal Keterampilan Pijat Jadi Jalan Buka Penghasilan
Rian Alfianto• Jumat, 2 Oktober 2026 | 17.52 WIB
Penyandang disabilitas netra diberikan keterampilan memijat. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Akses terhadap pekerjaan dan sumber penghasilan masih menjadi tantangan bagi penyandang disabilitas netra.

Pelatihan keterampilan yang terhubung dengan peluang usaha menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemandirian ekonomi mereka, termasuk melalui profesi terapis pijat.

Di Semarang, sebanyak 20 penyandang disabilitas netra mendapat pelatihan teknik pijat dasar dan sertifikasi profesi terapis.

Baca Juga: Status UMKM Ojol Masih Dibahas, Kementerian UMKM Buka Peluang Insentif

Program tersebut berlangsung di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, dan diarahkan agar peserta memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk membuka layanan pijat secara mandiri.

Pelatihan tidak hanya berhenti pada pembekalan teknik.

Peserta juga mendapat pendampingan serta sarana pendukung untuk menunjang praktik sehingga keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat berlanjut menjadi aktivitas ekonomi setelah pelatihan selesai.

Baca Juga: Dukung Kopdes Merah Putih, Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg

Bukan Sekadar Pelatihan, tapi Jalan Menuju Penghasilan

Bagi penyandang disabilitas netra, memiliki keterampilan saja belum tentu cukup.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana keterampilan tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan penghasilan dan bertahan secara berkelanjutan.

Ketua PERTUNI Semarang Achyani yang juga merupakan peserta sekaligus terapis dan instruktur pijat netra mengatakan, program itu membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.

"Semoga program ini dapat terus berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi kami dalam kehidupan sehari-hari, khususnya agar kami dapat memperoleh rezeki secara mandiri dari keterampilan yang kami miliki,” ujar Achyani.

20 Penyandang Disabilitas Netra Ikut Pelatihan

Di Karangrejo, pelatihan tersebut mencakup sosialisasi, pelatihan dan sertifikasi teknik pijat dasar, pendampingan, serta penyediaan sarana pendukung untuk praktik. 

Peserta juga memperoleh perlengkapan yang dapat digunakan selama proses pelatihan maupun ketika memberikan layanan pijat.

Baca Juga: Hari Batik Nasional: Sejarah Pengakuan UNESCO hingga Mendorong Ekonomi Kreatif

Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu peserta lebih siap menjalankan profesinya secara profesional.

Pelatihan di Semarang merupakan bagian dari program Pijat Netra Berdikari atau PIJAR yang telah berjalan sejak 2024.

Program tersebut sebelumnya menyasar penyandang disabilitas netra di Jakarta Utara melalui kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Cabang Jakarta Utara. 

Baca Juga: Bangkit Pascakebakaran, Bantuan PNM Bersama BRINS Nyalakan Harapan Warga Sade

Pada tahap awal, peserta memperoleh pelatihan dan sertifikasi pijat netra serta alat bantu praktik.

Pada 2025, dukungan dilanjutkan melalui penyediaan fasilitas praktik pijat netra di Terminal Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok.

Memasuki 2026, program diperluas ke Semarang dengan melibatkan PERTUNI Semarang dan Dinas Sosial setempat.

Baca Juga: Anggaran BBM Bersubsidi dan LPG 3 Kg Dipangkas, Wamenkeu: Kebijakan Subsidi Energi Terus Diperbaiki

Secara keseluruhan, sejak 2024 hingga 2026, program tersebut telah menjangkau 70 penyandang disabilitas netra di Jakarta dan Semarang. 

Sebagian peserta disebut telah memberikan layanan pijat secara mandiri maupun bekerja pada usaha kesehatan tradisional.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelatihan keterampilan dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke aktivitas ekonomi yang lebih produktif.

Baca Juga: Pelancong asal Malaysia Dominasi Kunjungan Wisman ke Indonesia

Tantangan Kemandirian Ekonomi Penyandang Disabilitas

Isu yang dihadapi penyandang disabilitas bukan hanya bagaimana mendapatkan pelatihan, tetapi juga memastikan keterampilan tersebut memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, keberlanjutan menjadi bagian penting dari program pemberdayaan.

Senior Vice President Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Sinergi Lokaseva Dewi Fitriyani mengatakan, program PIJAR diarahkan agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada pemberian fasilitas.

“Kami berharap keterampilan yang diperoleh melalui program ini dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Dewi.

Dalam konteks yang lebih luas, menurut dia, pemberdayaan semacam ini berkaitan dengan upaya mengurangi kesenjangan akses ekonomi.

Penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan yang setara untuk memperoleh pekerjaan, membangun usaha, dan mengembangkan keterampilan sesuai dengan kemampuan masing-masing

Program tersebut kemudian ditempatkan dalam kerangka pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Terutama SDGs 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDGs 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.

Dewi berharap peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan dan membangun usaha yang berkelanjutan.

“Kami berharap para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan dan membangun usaha yang berkelanjutan,” terang Dewi.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah