← Beranda
Defisit Transaksi Berjalan 2026 Diproyeksikan Melebar ke 2,49 Persen
Antara• Jumat, 2 Oktober 2026 | 20.30 WIB
kedelai impor menjadi bahan baku tahu di salah satu sentra produksi kawasan Pasir Putih, Depok, Jawa Barat, Senin (08/06/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2,49 persen dari PDB pada 2026 dibandingkan 0,09 persen dari PDB pada 2025.

Adapun cadangan devisa diperkirakan berada pada kisaran USD 143–147 miliar pada akhir 2026, dari sebelumnya sebesar USD 156,47 miliar pada akhir 2025.

"Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada 2026, seiring agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan mendorong permintaan impor yang lebih kuat, sementara permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlangsung membebani ekspor," kata Faisal, dikutip dari Antara, Jumat (2/10).

Faisal menambahkan bahwa kondisi tersebut berkontribusi terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan, sehingga memberikan tekanan terhadap posisi cadangan devisa.

Sebagai catatan, surplus perdagangan Indonesia melonjak dari USD 0,12 miliar pada Juli 2026 menjadi USD 3,55 miliar pada Agustus 2026. Namun, secara kumulatif, surplus perdagangan Januari hingga Agustus 2026 menyusut tajam menjadi USD 7,25 miliar, dari USD 29,35 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Agustus 2026 Cetak Surplus Tinggi USD 7,25 Miliar

Tim ekonom PermataBank masih melihat risiko penurunan terhadap neraca perdagangan Indonesia pada sisa 2026, di tengah pertumbuhan impor yang tetap solid dan lingkungan ekspor yang menantang.

Adapun PMI Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus 2026, menandakan kembali ekspansinya aktivitas manufaktur.

Baca Juga: BPS: Impor Indonesia Agustus 2026 Tembus USD 186,39 Miliar, Didominasi Bahan Baku/Penolong

Faisal memandang, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan menjaga permintaan domestik tetap kuat dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih tinggi.

Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah juga meningkatkan risiko kenaikan harga minyak global, yang berpotensi meningkatkan nilai impor minyak.

Sementara perkiraan puncak fenomena El Nino dapat meningkatkan kebutuhan impor pangan seiring upaya pemerintah meredam tekanan inflasi domestik. Secara keseluruhan, menurutnya, pertumbuhan impor diperkirakan tetap relatif kuat hingga sisa 2026.

Di sisi lain, jelas Faisal, pertumbuhan ekspor diperkirakan terus mengalami moderasi di tengah permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlanjut.

Melemahnya permintaan global terutama terkait dengan perlambatan ekonomi Tiongkok yang terus berlangsung, mengingat Tiongkok merupakan ekonomi terbesar kedua dunia sekaligus salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Baca Juga: Seorang Pajabat Sebut AS Tak Segan Serang Irak lagi jika Ada Ancaman

Ketegangan geopolitik juga dapat mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya angkutan dan asuransi serta memperpanjang waktu pengiriman, sehingga membebani kinerja ekspor.

Ketidakpastian perang dagang diperkirakan tidak hanya berlanjut dalam bentuk tarif yang lebih tinggi, tetapi juga mengarah pada fragmentasi perdagangan global yang lebih struktural, seiring negara-negara menjadi semakin berorientasi ke dalam negeri dan akses ke pasar ekspor baru menjadi semakin sulit.

Menurut Faisal, ketidakpastian tersebut dapat semakin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia.

“Namun, kenaikan harga energi global dapat memberikan dukungan melalui harga ekspor. Selain itu, meskipun perdagangan global semikonduktor dan chip terkait AI terus berkembang, keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut membuat manfaat langsung terhadap ekspor Indonesia kemungkinan tetap terbatas,” kata Faisal.

EDITOR: Estu Suryowati