← Beranda
Hilirisasi Komoditas Perkebunan Didorong Jadi Produk Bernilai Tambah
Rian Alfianto• Jumat, 2 Oktober 2026 | 19.57 WIB
Ilustrasi hilirasi hasil perkebunan. (Pixabay/tristantan)

 

JawaPos.com - Hilirisasi komoditas perkebunan didorong lebih jauh agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. 

Kelapa sawit, kakao, dan kelapa, menjadi tiga komoditas yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke berbagai produk turunan sekaligus memperkuat ekosistem industri halal.

Analis Kerja Sama Kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Muhammad Farouq Rosyadi mengatakan, berbagai kegiatan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pemanfaatan komoditas perkebunan kepada masyarakat.

Baca Juga: Penyandang Disabilitas Netra Sulit Mandiri, Bekal Keterampilan Pijat Jadi Jalan Buka Penghasilan

Terutama potensi pengolahannya menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

 "Kami ingin memperkenalkan peran BPDP agar mudah dipahami, sekaligus menunjukkan bagaimana komoditas kelapa sawit, kakao, dan kelapa dapat dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Muhammad Farouq Rosyadi.

Dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tambah

Hilirisasi menjadi penting karena nilai ekonomi sebuah komoditas tidak hanya ditentukan ketika hasil perkebunan dipanen dan dipasarkan sebagai bahan baku. 

Baca Juga: Hari Batik Nasional, KAI Daop 8 Surabaya Ajak Pelanggan Coba Pengalaman Mencanting

Pengolahan lebih lanjut membuka peluang munculnya berbagai produk turunan, termasuk makanan, minuman, produk kebersihan hingga kerajinan.

Gambaran tersebut terlihat dari produk yang ditampilkan melalui booth edukasi BPDP dalam Halal Indo 2026.

Sejumlah UMKM sektor perkebunan membawa produk yang memanfaatkan komoditas sawit, kakao, dan kelapa sebagai bahan dasarnya.

Produk tersebut antara lain kerajinan tas berbahan kelapa sawit dari UMKM Mandiri Handcraft Langsa, Aceh.

Ada pula produk kebersihan dan kue berbahan olahan kelapa sawit dari UMKM LPP Yogyakarta. 

Dari komoditas kakao, terdapat produk olahan cokelat dari UMKM Afa Cokelat, Jember.

Baca Juga: Inflasi Pangan Naik, Wamenkeu: Kualitas Gizi MBG Tak Terpengaruh

Sementara komoditas kelapa diolah menjadi produk minuman oleh UMKM Cocodrink, Jakarta.

Ragam produk tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak selalu berarti pengembangan industri berskala besar.

Pengolahan komoditas juga dapat dilakukan melalui usaha mikro, kecil, dan menengah dengan menghasilkan produk yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen.

Baca Juga: PPh 22 Marketplace Mulai Dipungut, Tarifnya 0,5 Persen dari Omzet

Bagi pelaku UMKM, proses tersebut sekaligus membuka ruang untuk memperluas pasar dan membangun jejaring dengan pelaku usaha lain maupun pemangku kepentingan dalam industri halal.

Hilirisasi dan Peluang Industri Halal

Pengembangan produk turunan komoditas perkebunan juga berkaitan dengan pertumbuhan industri halal.

Ketika bahan baku perkebunan diolah menjadi produk konsumsi, aspek kehalalan, keamanan, kualitas, serta proses produksi menjadi bagian penting dari rantai nilai yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Status UMKM Ojol Masih Dibahas, Kementerian UMKM Buka Peluang Insentif

Halal Indo 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku usaha, UMKM, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam ekosistem tersebut. 

Forum tersebut mempertemukan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem industri halal, memperluas jejaring bisnis, serta meningkatkan daya saing industri halal Indonesia di pasar global.

Dalam kegiatan itu, BPDP berperan sebagai salah satu sponsor sekaligus menghadirkan booth edukasi.

Selain menampilkan produk UMKM, booth tersebut digunakan untuk mengenalkan peran dan program BPDP kepada pengunjung.

Analis Kerja Sama Kelembagaan BPDP Muhammad Farouq Rosyadi menambahkan, partisipasi lembaganya dalam Halal Indo 2026 menjadi sarana untuk mendekatkan informasi mengenai peran dan program BPDP kepada masyarakat.

Edukasi juga diarahkan untuk menunjukkan potensi komoditas kelapa sawit, kakao, dan kelapa dalam menghasilkan produk bernilai tambah. 

"Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan peran BPDP agar mudah dipahami, sekaligus menunjukkan bagaimana komoditas kelapa sawit, kakao, dan kelapa dapat dikembangkan memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar Muhammad Farouq Rosyadi.

Bagi sektor perkebunan, pengembangan seperti ini menunjukkan bahwa rantai nilai tidak berhenti pada tahap produksi bahan baku.

Semakin banyak proses pengolahan yang dapat dilakukan di dalam negeri, semakin terbuka pula peluang bagi pelaku usaha dan UMKM untuk mengambil bagian dalam rantai industri.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah