JawaPos.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan bahwa proses merger sejumlah BUMN tengah berjalan. Di mana BUMN Karya akan didahulukan sebelum perusahaan lain masuk ke tahap restrukturisasi.
Adapun PT PP, PT Adhi Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya, yang akan didahulukan untuk proses merger.
"Ini (empat perusahaan konstruksi) yang paling mudah untuk dilakukan merger-nya," kata Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, kepada wartawan usai acara Executive Breakfast Meeting (EBM) seri ke-6 bertajuk 'Dua Tahun Danantara' di Jakarta Selatan, Jumat (2/10).
Setelah proses tersebut, Danantara akan menangani perusahaan yang membutuhkan restrukturisasi lebih kompleks.
Dony secara khusus menyebut PT Wijaya Karya dan PT Waskita Karya sebagai perusahaan yang membutuhkan upaya restrukturisasi lebih besar.
Baca Juga: BUMN Dipangkas, Target Danantara Sisakan 200 Perusahaan Hingga Akhir 2026
"Kalau yang Hutama Karya, mereka relatif sehat ya," ujarnya.
Menurut Dony, langkah yang disiapkan untuk Wika dan Waskita antara lain restrukturisasi, divestasi aset, hingga penurunan utang.
"Jadi hanya Wika, Waskita yang akan menjadi persoalan, karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, divestasi aset mereka, menurunkan utangnya, sisanya akan kita restrukturisasi. Begitu," kata Dony.
Sebelumnya, Danantara menargetkan perampingan BUMN tersisa sekitar 200 perusahaan pada akhir tahun 2026. Dony mengatakan, pemetaan terhadap perusahaan yang masuk dalam proses perampingan tersebut telah dilakukan.
Menurutnya, masing-masing perusahaan akan mendapat perlakuan berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan restrukturisasinya.
Dia menjelaskan, restrukturisasi tidak hanya dilakukan melalui satu skema. Beberapa perusahaan dapat memperoleh tambahan modal melalui equity, sementara perusahaan lainnya bisa melakukan pemasukan aset (inbreng) maupun restrukturisasi pinjaman.