JawaPos.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tidak hanya hanya menargetkan konsolidasi perusahaan asuransi BUMN konvensional rampung tahun 2026 ini.
Danantara juga membidik merger perusahaan asuransi syariah, yang mencakup lini asuransi jiwa, umum, hingga kredit.
"Syariah juga sama, kita akan lakukan juga merger. Jadi, ada asuransi yang Syariah-nya juga sama. Baik itu Life Insurance-nya, General Insurance-nya, maupun Credit Insurance-nya juga ada yang Syariah," ujar Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria kepada wartawan, usai acara Executive Breakfast Meeting (EBM) seri ke-6 bertajuk 'Dua Tahun Danantara' di Jakarta Selatan, Jumat (2/10).
Menurut Dony, kebutuhan terhadap lini asuransi kredit syariah juga berkaitan dengan penyaluran pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis syariah.
Baca Juga: Fokus Percepat Swasembada Energi, Danantara Bakal Investasi Pabrik Etanol
"Karena kan kita juga menyalurkan KUR Syariah. Jadi nanti asuransi penjaminan untuk Syariah," lanjutnya.
Dengan skema tersebut, konsolidasi tidak hanya diarahkan untuk merampingkan jumlah entitas, tetapi juga memisahkan fokus bisnis masing-masing perusahaan berdasarkan jenis layanan asuransi dan penjaminannya.
Sebelumnya, Dony menargetkan pemangkasan 15 badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi menjadi 3 BUMN tuntas pada 2026.
"Kita punya 15 perusahaan asuransi yang saat ini sedang dilakukan proses konsolidasi. Tahun 2026 ini akan kami 'push' untuk dilakukan (konsolidasi), hanya akan menjadi 3 perusahaan asuransi,” ujar Dony dalam acara “Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia” yang digelar di Jakarta, Rabu (28/1).
Ia menyampaikan, asuransi merupakan salah satu industri yang tata kelolanya harus ditingkatkan di Indonesia.
Baca Juga: COO Danantara Bakal Bahas Opsi Impor KRL Jepang dengan Menhub
Dalam satu bulan ini, lanjut dia, ia sudah bertemu dengan OJK sebanyak dua kali untuk membahas mengenai asuransi.
Pembahasan tersebut meliputi tata kelola asuransi, potensi risiko yang ada di industri asuransi, serta potensi pertumbuhan perusahaan asuransi.
“Kami lakukan pemetaan permasalahan yang ada di perusahaan asuransi BUMN. Harus diakui, bahwa perusahaan-perusahaan asuransi di BUMN menghadapi persoalan yang tidak sedikit,” kata Dony.