JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengklaim ketersediaan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital di Bintan, Kepulauan Riau, telah habis dipesan. Ia mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena Indonesia menjadi salah satu destinasi utama investasi pusat data di tingkat global.
Pasalnya, salah satu persyaratan utama pembangunan data center, seperti ketersediaan lahan, pasokan listrik yang andal, serta kecukupan air, dinilai berhasil dipenuhi oleh Indonesia. Airlangga menyebut, pesatnya adopsi kecerdasan buatan di dunia telah menjadikan industri data center sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital.
“Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air. Indonesia dilihat memenuhi persyaratan tersebut, maka kawasan ekonomi khusus yang digital di Bintan juga ini sudah dalam tanda petik ‘sold out’,” ujar Airlangga di Jakarta pada Selasa (6/10).
Airlangga mengatakan, untuk merespon hal tersebut pemerintah akan mendorong pengembangan industri data center baru di kawasan Bekasi hingga Karawang, Jawa Barat, yang saat ini sudah beroperasi. Ia menyebut, koridor tersebut diproyeksikan mendapatkan tambahan kapasitas daya listrik yang signifikan guna menopang operasional data center dalam beberapa tahun ke depan.
“Ini melakukan ekspansi, kemudian di wilayah Bekasi, Karawang yang dekat dengan domestic market juga direncanakan kapasitas yang sekitar 600-700 MW. Per hari ini secara nasional itu bisa mendapatkan tambahan sekitar 500 MW dalam 2-3 tahun ke depan,” ujarnya.
Airlangga mengatakan, AI bertindak sebagai mesin penggerak baru yang membutuhkan basis data kredibel untuk berkembang. Karena itu ke depan pemanfaatan AI juga akan didorong masuk dalam industri kesehatan atau health care.
Dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa serta integrasi data sejak penanganan pandemi Covid-19 dan BPJS Kesehatan, Indonesia memiliki basis data besar untuk mempercepat riset dan penemuan obat.
“Jadi ini yang harus kita dorong, kekuatan kita di berbagai sektor dengan penduduk 280 juta itu bisa menjadi machine learning atau bahan untuk clinical trial yang lebih cepat sekaligus bisa mendorong perkembangan industri medicine yang sampai saat ini sebetulnya kita ketinggalan,” ucapnya.
Secara keseluruhan, pemanfaatan AI dan penguatan infrastruktur digital ini diharapkan mampu memaksimalkan potensi ekonomi digital Indonesia.
Kemudian dengan kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN, nilai ekonomi digital kawasan diproyeksikan melonjak dari USD 1 triliun menjadi USD 2 triliun, di mana Indonesia memegang porsi terbesar yakni sekitar 40 persen.
“Jadi kalau kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, jadi dari agriculture kita naik eskalatornya ke industri, dari industri harus dinaikkan lagi ke digitalisasi service dan yang lain. Vietnam sudah ke sana, India juga, maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan maka pertumbuhan 8 persen itu bisa dicapai,” ungkapnya.