← Beranda
'BYD Effect' Mobil Listrik Murah Jadi Penahan Inflasi Australia di Tengah Lonjakan Harga BBM
Mellyna Putri Diniar• Rabu, 14 Oktober 2026 | 04.46 WIB
Deretan kendaraan listrik BYD di Canberra, Australia (The New York Times)

 

JawaPos.com - Lonjakan penjualan mobil listrik di Australia mulai membawa dampak lebih luas daripada penghematan biaya bahan bakar. Kehadiran kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) berharga terjangkau, terutama dari produsen Tiongkok seperti BYD, membantu menekan biaya kepemilikan kendaraan ketika konflik Iran mendorong harga minyak dan memperbesar tekanan inflasi. Fenomena ini disebut BYD effect, yakni pengaruh mobil listrik murah terhadap biaya hidup dan perekonomian.

Chris Dickman, manajer portofolio senior di perusahaan investasi Australian Ethical, menilai peralihan dari kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel menjadi kekuatan yang berpotensi meredam inflasi.

"Semakin banyak konsumen yang berusaha melepaskan diri dari guncangan harga minyak," kata Dickman, seperti dikutip The Guardian, Selasa (13/10/2026).

Menurut Dickman, penggunaan mobil listrik mengurangi kebutuhan bensin sekaligus ikut menekan harga kendaraan baru dan bekas. Biaya terkait kepemilikan mobil, termasuk premi asuransi, juga mulai turun seiring semakin matangnya pasar. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana teknologi yang lebih baru dan bersih dapat mengungguli produk konvensional dari sisi ekonomi ketika jumlah pengguna dan skala pasarnya terus bertambah.

Perkembangan tersebut juga ditopang oleh pilihan kendaraan yang semakin terjangkau. Laporan kepemilikan mobil NRMA menunjukkan setidaknya lima model mobil listrik kini dijual dengan harga sekitar atau di bawah 30.000 dolar Australia. Kelimanya berasal dari merek Tiongkok. Harga yang semakin kompetitif membantu mengatasi hambatan yang sebelumnya memperlambat adopsi EV, mulai dari harga pembelian, keterbatasan stasiun pengisian daya, premi asuransi tinggi, hingga mahalnya perawatan dan penggantian baterai maupun suku cadang.

Baca Juga: Elon Musk Gelontorkan USD 276 Juta untuk Bantu Republik Pertahankan Mayoritas Senat AS

Dampaknya terlihat pada penjualan September. Berdasarkan data Federal Chamber of Automotive Industries, BYD menempati posisi kedua merek kendaraan terlaris di Australia dengan 8.191 unit, di bawah Toyota yang membukukan 17.682 unit. Ford berada di urutan ketiga dengan 7.592 unit. Merek Tiongkok lainnya, GWM, MG, Geely, dan Chery, juga masuk sepuluh besar. Tiga tahun sebelumnya, hanya MG yang tercatat dalam daftar tersebut.

Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mempercepat perubahan perilaku konsumen sejak Maret. Penjualan mobil listrik berbasis baterai kini menyumbang hampir 25 persen penjualan kendaraan baru. Jika mobil hibrida turut dihitung, porsinya mencapai sekitar separuh pasar. Bahkan, pada bulan lalu, penjualan mobil listrik melampaui kendaraan yang hanya menggunakan bensin.

Namun, peralihan kendaraan pribadi belum cukup untuk menghilangkan tekanan inflasi. Data Australian Institute of Petroleum menunjukkan harga diesel telah melampaui 2,80 dolar Australia per liter di banyak stasiun pengisian, sementara bensin tanpa timbal menembus 2,40 dolar Australia per liter di sebagian besar ibu kota negara bagian. Kenaikan ini merambat ke biaya barang dan jasa, sehingga manfaat penghematan dari mobil listrik belum mampu mengimbangi seluruh tekanan harga.

Tekanan tersebut juga tercermin dalam kebijakan moneter. Bulan lalu, Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,6 persen, level tertinggi sejak 2011, sekaligus memperingatkan kemungkinan kenaikan lanjutan. Konflik Iran yang berkepanjangan dinilai berisiko membuat harga bertahan pada tingkat lebih tinggi.

Adam Triggs, salah satu pendiri konsultan ekonomi Mandala Partners, menilai langkah berikutnya adalah mengalihkan angkutan barang yang bergantung pada diesel ke tenaga listrik. Menurutnya, kendaraan jenis ini sudah memiliki biaya kepemilikan total yang kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Pemerintah dapat membantu menanggung biaya awal elektrifikasi armada angkutan barang dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

"Ketika jumlah pengguna mencapai skala yang memadai, biaya pada akhirnya turun secara drastis," kata Triggs.

Dia menilai pola serupa dapat berlaku pada truk listrik: dukungan praktis pemerintah dapat mendorong elektrifikasi armada, sebelum mekanisme pasar mengambil alih.

Baca Juga: Amazon Kerahkan 1 Juta Robot di Gudang, Ekspansi Otomatisasi Bayangi Masa Depan 1,5 Juta Pekerja

Dengan demikian, BYD effect menunjukkan bahwa persaingan kendaraan listrik bukan hanya soal teknologi dan emisi, tetapi juga kemampuan mengurangi ketergantungan pada minyak ketika gejolak geopolitik mengancam daya beli masyarakat.

EDITOR: Candra Mega Sari