← Beranda
Mengenal Fenomena El Nino dan La Nina: Arus Hangat dan Arus Dingin Dapat Mengakibatkan Banyak Hal bagi Manusia
Alberta Dionny Natanuel• Sabtu, 21 Maret 2026 | 05.29 WIB
Ilustrasi pergantian cuaca (Pexel)

JawaPos.com - Iklim di Bumi ini memiliki siklus rutin dimana cuaca akan berganti sesuai dengan waktunya. Namun, pergantian iklim ini memiliki berbagai dampak yang sangat signifikan bagi para makhluk hidup. 

Dua fenomena iklim yang memiliki dampak cukup signifikan bagi manusia adalah El Nino dan La Nina. Kedua hal itu terjadi karena adanya peningkatan atau penurunan suhu laut. 

Dilansir dari BBC, kedua fenomena ini dapat berlangsung cukup lama, yaitu 9-12 bulan. Dan terjadi setiap 2-7 tahun. 

Baca Juga: Simak dan Pahami! Ini Perbedaan Antara Fenomena Cuaca El Nino dan La Nina: Dampaknya pada Iklim Global

El Nino

Dilansir dari BMKG, fenomena alam yang dinamai dengan bahasa Spanyol berarti "anak laki-laki" ini awalnya digunakan untuk menandai kondisi arus laut hanya tahunan di sepanjang pesisir Amerika Selatan. 

Walaupun awalnya terjadi di region AS, fenomena ini terjadi hingga ke Samudera Pasifik bagian timur, hingga mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik Tengah. 

Dilansir dari National Ocean and Atmospheric Administration, fenomena El Nino ini dapat mempengaruhi cuaca kita pula. 

Perairan yang hangat ini menyebabkan arus jet Pasifik bergerak lebih ke selatan dari posisi netralnya. Akibatnya, daerah-daerah di utara Amerika Serikat menjadi lebih kering dan hangat dari biasanya. Namun, pesisir teluknya dan area tenggara menjadi lebih basah hingga menyebabkan peningkatan resiko banjir. 

Di Indonesia, El Nino menyebabkan penurunan curah hujan di seluruh wilayah Indonesia pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON). 

Pada bulan Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino mempengaruhi pada penurunan curah hujan di Indonesia bagian tengah dan timur. Sedangkan pada Maret-April-Mei (MAM) curah hujan sangat beragam di berbagai wilayah di Indonesia. 

Fenomena ini dapat mempengaruhi pada menurunnya curah hujan di Indonesia, terutama pada periode JJA dan SON hingga >40%. Tapi, beberapa wilayah Indonesia dapat mengalami peningkatan di periode DJF dan MAM. 

Akibatnya, kita dapat mengalami bencana seperti kekeringan dan kebakaran hutan. Hal ini dapat mempengaruhi pertanian hingga perekonomian kita. 

La Nina

Berkebalikan dengan El Nino, La Nina (juga berarti "anak perempuan") dalam bahasa Spanyol) adalah fenomena dimana terjadi arus dingin di perairan Pasifik. 

Saat fenomena ini terjadi, angin pasat akan lebih kuat dari biasanya, dan mendorong lebih banyak air hangat ke arah Asia. Sedangkan di pantai barat Amerika, arus naik meningkat dan membawa air dingin yang kaya nutrisi ke permukaan. 

Perairan dingin di Samudera Pasifik ini mendorong arus jet ke arah utara. Hal ini menyebabkan kekeringan di bagian selatan Amerika Serikat dan hujan lebat di Pasifik Barat Laut. 

Di Indonesia, pada periode JJA akan terjadi peningkatan curah hujan di hampir sebagian besar wilayah Indonesia. Dan pada SON, La Nina dapat mempengaruhi peningkatan curah hujan di wilayah tengah hingga timur. Lalu pada DJF dan MAM, fenomena ini akan mempengaruhi pada peningkatan curah hujan di wilayah timur. 

Peningkatan curah hujan pada saat fenomena ini berlangsung umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi daripada saat tahun netral. Namun, ada pula peluang peningkatan lebih dari kisaran itu. 

Peningkatan itu akan terjadi pada periode JJA dan SON. Sedangkan pada periode DJF dan MAM, di sebagian wilayah barat Indonesia dapat mengalami peningkatan curah hujan akibat pengaruh angin monsun. 

Karena seringnya terjadi hujan, kita dapat menganggap bahwa tidak terjadi musim panas. Periode ini disebut sebagai kemarau basah. 

Selain itu, karena meningkatnya curah hujan ini resiko terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, bahkan badai dapat meningkat pula. 

Baca Juga: Faisal Basri Sebut BLT El Nino Disalurkan untuk Kebutuhan Tingkatkan Suara

EDITOR: Candra Mega Sari