← Beranda
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto jadi Harapan Baru untuk Institusi Polri
Latu Ratri Mubyarsah• Jumat, 2 Oktober 2026 | 01.21 WIB
Presiden Prabowo memberikan selamat kepada Jenderal Suyudi Ario Seto usai dilantik jari Kapolri. (Tim Media Presiden)

JawaPos.com - Pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menjadi momentum untuk melakukan pembenahan di tubuh institusi kepolisian.

Politikus Abdul Rachman Thaha menyampaikan pandangan tersebut pada Kamis (1/10).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Laskar Merah Putih itu mengatakan, Kapolri baru membawa harapan baru bagi upaya memperkuat dan membenahi institusi Polri.

Baca Juga: Kapolri Baru Suyudi Ario Seto Ternyata Pernah Jadi Coverboy saat SMP

”Kapolri baru, harapan baru untuk membenahi institusi Polri,” ujar Abdul Rachman Thaha yang akrab disapa ART.

Menurut dia, pergantian kepemimpinan di tubuh Polri menjadi momentum untuk memperkuat pelaksanaan tugas kepolisian sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut.

Dia menilai pembenahan institusi kepolisian perlu diarahkan pada peningkatan profesionalisme, pelayanan kepada masyarakat, serta penguatan penegakan hukum, yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Jalankan Perintah Presiden Prabowo, Kapolri Suyudi Ingin Polisi Lebih Dekat dengan Masyarakat

Pernyataan ART itu disampaikan setelah DPR RI menyetujui pemberhentian dengan hormat Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri.

Dalam rapat paripurna DPR RI pada Kamis (1/10), DPR juga menyetujui Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo.

Proses pergantian tersebut telah melalui mekanisme di DPR, termasuk pembahasan di Komisi III DPR RI.

Pergantian pucuk pimpinan Polri selanjutnya menjadi awal bagi kepemimpinan baru dalam menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakan hukum.

Abdul Rachman Thaha berharap, kepemimpinan Kapolri baru dapat membawa langkah-langkah pembenahan yang memberikan dampak positif bagi institusi Polri maupun masyarakat.

Dia menyebut reformasi kultur masih menjadi salah satu tantangan yang harus diperhatikan Kapolri baru.

Baca Juga: Jenderal Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri, Kompolnas Ingatkan Pengawasan Internal dan Eksternal

”Kapolri berikutnya memiliki tantangan sangat besar bagi organisasi, selain reformasi kultural yang belum tuntas juga percepatan perkembangan teknologi terutama AI (kecerdasan buatan),” ujar Abdul Rachman Thaha.

Menurut dia, perubahan kultur tidak cukup hanya dilakukan melalui perubahan aturan atau kebijakan.

Pembenahan juga perlu menyentuh pola kerja dan perilaku aparat dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Baca Juga: Resmi jadi Kapolri, Harta Kekayaan Suyudi Ario Seto Tercatat Rp 5,8 Miliar

Hal tersebut dinilai penting karena masyarakat kini memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.

”Ini penting karena masyarakat pasti akan lebih melek dengan informasi,” ujar Abdul Rachman Thaha.

Dengan disetujuinya Suyudi Ario Seto, tongkat kepemimpinan Polri memasuki fase baru. Fase tersebut harus diikuti dengan agenda pembenahan yang konkret.

Baca Juga: Profil Komjen Dedi Prasetyo yang Ditunjuk Jadi Kepala Badan Reforma Agraria Nasional

”Mulai dari penguatan penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan narkoba, peningkatan kualitas pelayanan, pembangunan citra institusi, reformasi kultur hingga kesiapan menghadapi perkembangan teknologi,” ungkap Abdul Rachman Thaha.

Pergantian kepemimpinan, kata dia, bukan sekadar perubahan figur di pucuk institusi, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah