← Beranda
Perkuat Strategi Padamkan Karhutla, Menhut Perintahkan Putus Pergerakan Api dengan Alat Berat
Muhammad Ridwan• Rabu, 14 Oktober 2026 | 05.30 WIB
Ilustrasi pemadaman Karhutla Kalimantan Barat.

 

JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memperkuat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Strategi penanganan kini tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api, tetapi juga diarahkan untuk menghentikan pergerakan api agar kebakaran tidak semakin meluas.

Langkah tersebut disampaikan Raja Antoni setelah meninjau langsung proses pemadaman di kawasan KM 23 Taman Nasional Sebangau, Selasa (13/10). Dalam kunjungan itu, ia didampingi Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran serta jajaran TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Bersama rombongan, Raja Juli mendatangi lokasi kebakaran untuk melihat secara langsung upaya pemadaman yang dilakukan personel Manggala Agni Kementerian Kehutanan.

Raja Juli menyampaikan, pemerintah pusat dan daerah memiliki kepedulian terhadap warga yang telah merasakan dampak asap selama beberapa bulan terakhir. Ia menegaskan, pemerintah terus berupaya menangani situasi tersebut melalui langkah konkret di lapangan dengan melibatkan berbagai unsur terkait.

Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan Beasiswa LPDP Jakarta untuk 75 Calon Penerima

“Bukan sama sekali kita lepas tangan, cuci tangan, sama sekali tidak. Tentu bisa dilihat di lapangan, Pak Gubernur, Pak Wali Kota, TNI Polri, Manggala Agni, Kemenhut. Teman-teman lihat itu bagaimana mata mereka? Sudah merah, sudah lelah tapi karena ini tugas mereka tetap ada di lapangan untuk bekerja secara real secara konkret,” kata Raja Juli.

Dalam penanganan karhutla di Sebangau, lanjut Raja Juli, pemerintah kini memperkuat strategi dengan memutus bagian depan atau kepala api menggunakan bantuan alat berat. Langkah ini ditujukan untuk menghambat laju kebakaran sehingga api tidak menjalar lebih jauh dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah berencana menambah sekitar empat hingga lima unit ekskavator. Alat berat itu akan digunakan untuk memperkuat penyekatan di sejumlah area yang menjadi jalur pergerakan api.

“Bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus ya, kepala apinya. Kalau api yang kita putus ya dengan kecepatan mempergunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Selain mengerahkan alat berat, pemerintah juga berencana menambah sarana pendukung pemadaman berupa sumur bor. Raja Antoni menyebutkan, kebutuhan tambahan diperkirakan mencapai 30 sumur bor yang akan dibangun di sekitar area kepala api.

Sumur bor tersebut direncanakan ditempatkan dengan jarak sekitar 50 meter di sekitar titik-titik strategis. Keberadaan sumber air tambahan diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemadaman sekaligus memperkuat upaya pengendalian api di lapangan.

“Jadi bukan lagi mengejar api, tapi sudah menghadap api dengan risiko yang gak sederhana,” ucapnya.

Sementara itu, penanganan dari udara tetap dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing. Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membantu mengurangi intensitas kebakaran dan mendukung pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Baca Juga: KPK Gelar OTT di Lingkungan BNPB, Amankan Diduga Penyelenggara Negara

Namun, pelaksanaan water bombing masih menghadapi kendala berupa keterbatasan jarak pandang atau visibilitas yang menghambat penerbangan helikopter. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mengoptimalkan pemadaman dari udara.

Adapun operasi modifikasi cuaca terus dilaksanakan ketika terdapat bibit awan yang memungkinkan dilakukannya penyemaian. Upaya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan curah hujan dan membasahi wilayah terdampak, sehingga mendukung penanganan kebakaran.

Di sisi lain, penguatan personel dan peralatan di darat terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi kebakaran yang dinamis.

Kombinasi penyekatan menggunakan alat berat, penambahan sumur bor, serta operasi pemadaman dari udara menjadi strategi terpadu pemerintah dalam mengendalikan karhutla di Taman Nasional Sebangau.

EDITOR: Sabik Aji Taufan