JawaPos.com - Insiden ledakan yang terjadi di Rumah Makan Tempong Sri Dewi, kawasan San Antonio, Surabaya, dipastikan bukan disebabkan oleh bahan peledak atau bom. Melainkan dipicu kebocoran pada pipa gas eliji 50 kg.
Tim Gegana Satbrimob Polda Jawa Timur menyebut ledakan tersebut lebih mengarah pada fenomena BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion), yakni ledakan akibat tekanan gas yang terkumpul dan kemudian terpicu.
Danden Gegana Satbrimob Polda Jatim Kompol Dyan Vicky Sandi mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara di lokasi kejadian, pihaknya tidak menemukan unsur bahan peledak maupun komponen yang mengarah pada bom.
“Sampai sekarang kami dari hasil penyelidikan, untuk unsur bahan peledak ataupun unsur-unsur yang mengandung dari bom itu tidak kami temukan. Tapi lebih ke arah ini ledakan sebetulnya BLEVE,” kata Sandi ditemui di lokasi, Selasa (6/10).
Baca Juga: Pertumbuhan Vietnam Capai 9 Persen, Airlangga Dorong Digitalisasi hingga AI
Menurut dia, fenomena tersebut dapat terjadi ketika gas yang bocor terkumpul dalam suatu ruangan.
Gas yang terakumulasi kemudian mendapatkan pemicu sehingga menimbulkan ledakan dengan tekanan cukup besar.
“Karena ada tekanan gas yang terkumpul dalam satu ruangan, sehingga setelah terpemicu itu akan meledak,” ujarnya.
Tekanan akibat ledakan tersebut terlihat dari kondisi bangunan di sekitar lokasi. Sandi menyebut, terdapat kerusakan pada bagian tembok dan kaca yang menunjukkan adanya tekanan kuat dari dalam ruangan ke arah luar.
“Dari satu ruangan itu kelihatan bagaimana desakannya ke tembok kanan, tembok kiri, dan ke depan itu kaca. Jadi kaca hancur, kemudian temboknya kelihatan lubang, mendesak ke arah luar,” jelasnya.
Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie menjelaskan di lokasi kejadian ditemukan tiga tabung elpiji berkapasitas masing-masing 50 kilogram. Dua tabung berwarna oranye dan satu tabung berwarna putih.
Dia menyebut ketiga tabung tersebut tidak dalam kondisi meledak. Dugaan sementara, terjadi kebocoran gas, yang salah satunya diduga berasal dari bagian pipa. Namun, penyebab pasti kebocoran masih dalam penyelidikan.
“Kalau untuk tabungnya tidak meledak, tapi itu diduga karena kebocoran. Kebocoran itu diduga karena dari pipanya, sementara dugaannya,” kata Kapolres.
Baca Juga: PPSN VI Ditutup, Dirjen Pesantren: Prestasi Terpenting adalah Prestasi Karakter
Ketiga tabung elpiji tersebut juga telah dipastikan kosong. Gas yang berada di dalam tabung disebut telah keluar seluruhnya.
“Sudah dipastikan bahwa untuk saat ini ketiga elpiji itu juga sudah kosong, artinya memang gasnya sudah keluar semua,” ujarnya.
Polisi masih mendalami apakah kebocoran berasal dari satu tabung atau lebih. Hingga kini, petugas masih berfokus pada penanganan tempat kejadian perkara dan korban.
“Masih kita dalami lagi,” katanya.
Dari kejadian itu, 58 bangunan rusak. Rinciannya, 42 ruko dan 16 rumah warga.
Berdasarkan data BPBD Kota Surabaya dari 42 ruko, 10 mengalami rusak ringan, 28 mengalami rusak sedang dan empat ruko mengalami rusak berat.
Sementara dari 16 rumah rusak, 13 unit rusak ringan, dua unit rusak sedang dan satu unit rusak.
Selain ruko dan rumah, delapan unit kendaraan terdiri dari tiga sepeda motor dan lima mobil mengalami rusak parah.
Insiden itu mengakibatkan lima karyawan megalami luka-luka. Mereka kemudian dirujuk ke RSU de Soetomo untuk penanganan lebih lanjut.