← Beranda
Beton, Aspal, dan Tata Kota yang Membuat Surabaya Makin Gerah
Ardini Pramitha• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 20.30 WIB
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyiram tanaman di bawah Fly Over Wonokromo, Surabaya, di tengah suhu panas menyengat. (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Di Surabaya, panas bukan semata urusan matahari yang bersinar terik. Ada jalanan aspal yang menyimpan panas, bangunan yang memantulkan radiasi, serta ruang terbuka yang kian penting untuk menjaga kesejukan kota.

Di tengah puncak musim kemarau, kombinasi faktor alam dan karakter perkotaan membuat udara terasa semakin menyengat. Pertanyaannya, seberapa besar tata ruang ikut menentukan panas yang dirasakan warga Kota Pahlawan?

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini turut dipengaruhi minimnya tutupan awan, terutama pada siang hari. Akibatnya, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa.

Puncak cuaca panas diprakirakan terjadi pada Oktober. Pada pertengahan bulan, posisi matahari diprediksi melintas tepat di atas wilayah Surabaya sehingga penerimaan radiasi matahari meningkat.

”Meskipun peningkatannya tidak signifikan, tapi (tetap) akan ada peningkatan dibanding sebelumnya,” beber Rendy kepada JawaPos.com, Senin (5/10).

Namun, panas yang dirasakan warga tidak hanya berkaitan dengan kondisi atmosfer. Karakter fisik kota juga ikut menentukan bagaimana panas diserap, disimpan, dan dilepaskan kembali ke lingkungan.

Kawasan yang didominasi bangunan, beton, dan aspal memiliki karakter berbeda dibandingkan wilayah dengan banyak pepohonan dan permukaan tanah terbuka. Material keras dapat menyerap dan menyimpan panas, sementara minimnya vegetasi mengurangi keteduhan di ruang publik.

Kondisi tersebut membuat persoalan suhu perkotaan tidak cukup dijelaskan hanya melalui prakiraan cuaca. Cara kota dibangun dan ruang-ruangnya dikelola juga perlu diperhatikan.

Rendy menyebut Surabaya Tengah, Surabaya Utara, dan Surabaya Barat sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam konteks panas perkotaan.

Adryene (kiri) dan Michelle menghindari terik matahari yang menyengat di Kawasan Mayjen Sungkono, beberapa waktu lalu. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Adryene (kiri) dan Michelle menghindari terik matahari yang menyengat di Kawasan Mayjen Sungkono, beberapa waktu lalu. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Surabaya Tengah memiliki konsentrasi bangunan yang padat. Di kawasan seperti ini, keberadaan gedung dan permukaan keras dapat memengaruhi kondisi termal lingkungan.

Baca Juga: Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak

Sementara itu, karakter pesisir Surabaya Utara serta aktivitas industri di Surabaya Barat juga menjadi bagian dari kondisi lingkungan yang perlu dikaji. Untuk memastikan wilayah mana yang benar-benar memiliki suhu tertinggi, diperlukan pengukuran yang mewakili masing-masing kawasan.

Di balik perubahan cuaca musiman, ada persoalan yang lebih panjang: perubahan iklim global. Peningkatan suhu bumi berkaitan dengan bertambahnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Namun, besarnya kontribusi perubahan iklim terhadap suhu Surabaya pada periode tertentu perlu dibaca bersama data meteorologi dan kajian ilmiah.

Panas perkotaan, dengan demikian, tidak hanya menyangkut seberapa terik matahari hari ini. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan kota merespons panas yang diterimanya.

Beton, Aspal, dan Fenomena Pulau Panas Perkotaan

Pakar Tata Kota Bidang Perumahan dan Permukiman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Dewi Septanti menilai perubahan tata ruang perkotaan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membaca peningkatan suhu di Surabaya.

Menurut dia, salah satu fenomena yang relevan adalah urban heat island atau pulau panas perkotaan. Fenomena ini terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya, antara lain akibat dominasi permukaan keras dan aktivitas manusia.

Surabaya, kata Dewi, merupakan kota yang cukup padat dengan banyak permukaan didominasi beton dan aspal. Material tersebut menyerap serta menyimpan panas sehingga dapat meningkatkan suhu lingkungan.

”Jadi, kita itu termasuk kota yang padat dengan banyak beton, aspal,” katanya.

Persoalan tidak berhenti pada material bangunan. Semakin sedikit permukaan tanah yang terbuka, semakin terbatas pula ruang bagi air untuk meresap. Pada saat yang sama, berkurangnya vegetasi membuat lingkungan kehilangan sebagian keteduhan alami.

Dewi mencontohkan penggunaan paving block berongga yang memungkinkan rumput tumbuh di sela-selanya. Sistem semacam itu dapat membantu air hujan meresap ke dalam tanah, selama konstruksi dan lapisan di bawahnya memang dirancang untuk mendukung resapan.

Pakar Tata Kota Bidang Perumahan dan Permukiman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Dewi Septanti (Dok. ITS)
Pakar Tata Kota Bidang Perumahan dan Permukiman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Dewi Septanti (Dok. ITS)

Sebaliknya, halaman, area parkir, dan ruang terbuka yang ditutup beton atau material kedap air dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air.

”Beton, aspal, bangunan itu kan menyerap dan menyimpan panas. Akhirnya suhunya jadi tambah panas dibandingkan dengan sebelumnya,” jelasnya.

Baca Juga: Ancaman Kesehatan Mengintai Warga Surabaya, Kasus Heat Stroke Meningkat

Dewi juga menceritakan pengalamannya ketika berada di kawasan Delta Plaza Surabaya. Area parkir yang minim pepohonan membuat panas terasa sangat kuat, terutama pada siang hari.

Pengalaman itu memperlihatkan pentingnya vegetasi di ruang-ruang yang digunakan warga sehari-hari. Pohon bukan sekadar penghias kota. Tajuknya memberikan bayangan, sementara keberadaan vegetasi dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.

”Harusnya kita mungkin harus ada semacam penelitian yang melihat bagaimana ruang terbuka hijau kita, apakah berkurang atau enggak,” lanjut Dewi.

Kota Butuh Ruang untuk Bernapas

Bagi Dewi, upaya mengurangi panas perkotaan tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah pohon. Tata letak bangunan, jalan, dan ruang terbuka juga perlu mempertimbangkan pergerakan udara.

Kepadatan bangunan yang tidak memperhatikan sirkulasi dapat menghambat aliran angin di kawasan tertentu. Karena itu, perencanaan kota perlu mempertimbangkan koridor angin, yakni ruang yang memungkinkan udara bergerak dan membantu mengurangi penumpukan panas di lingkungan perkotaan.

”Misalnya kita enggak mempertimbangkan sirkulasi angin. Jadi tidak adanya koridor angin namanya istilahnya seperti itu. Yang bisa membantu untuk mengalirkan udara panas atau mengurangi panas. Ini enggak ada. Semuanya kayak terperangkap. Itu kan akhirnya menyebabkan tambah panas,” ucap Dewi.

Orientasi jalan dan bangunan terhadap arah matahari juga menjadi aspek yang perlu diperhitungkan. Rancangan yang tidak mempertimbangkan paparan matahari dapat membuat bagian tertentu bangunan menerima radiasi lebih besar.

Loading...

Persoalan lain muncul ketika desain bangunan di kawasan tropis tidak disesuaikan dengan karakter iklim setempat.

Dewi menyoroti penggunaan kaca secara berlebihan pada sejumlah bangunan di Surabaya. Menurut dia, desain yang tidak mempertimbangkan paparan matahari dan perlindungan terhadap panas dapat meningkatkan beban pendinginan ruangan.

”Kita banyak sekali bangunan yang niru-niru barat. Kalau sampean lihat itu kaca-kaca, banyak kaca-kaca. Kaca itu bikin panas,” ujarnya.

Baca Juga: Beton, Aspal, dan Tata Kota yang Membuat Surabaya Makin Gerah

Penggunaan kaca sendiri tidak serta-merta membuat bangunan lebih panas. Dampaknya bergantung pada jenis kaca, orientasi bangunan, pelindung matahari, ventilasi, dan rancangan keseluruhan. Namun, jika tidak direncanakan dengan tepat, bangunan berkaca luas dapat menerima panas matahari lebih besar dan membutuhkan lebih banyak energi untuk pendinginan.

Karena itu, prinsip bangunan hijau atau green building perlu diterapkan dengan mempertimbangkan iklim tropis. Efisiensi energi, ventilasi, peneduh, pemilihan material, dan pengelolaan air menjadi bagian dari upaya menciptakan bangunan yang lebih nyaman.

Sejumlah mahasiswa menerobos suhu panas meski mendung di Balai Pemuda Surabaya, beberapa waktu lalu. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Sejumlah mahasiswa menerobos suhu panas meski mendung di Balai Pemuda Surabaya, beberapa waktu lalu. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Aturan Ada, Pengawasan Menjadi Tantangan

Dewi menilai Surabaya sebenarnya telah memiliki instrumen perencanaan tata ruang. Ketentuan mengenai lahan terbangun dan ruang yang perlu dipertahankan telah menjadi bagian dari regulasi tata ruang.

Persoalannya bukan hanya apakah aturan tersedia, melainkan bagaimana ketentuan tersebut diterapkan dan diawasi di lapangan.

Ia mencontohkan persoalan bangunan yang berdiri di atas saluran air atau penutupan saluran yang seharusnya berfungsi untuk mengalirkan air. Perubahan semacam itu dapat mengganggu fungsi ruang dan infrastruktur yang sudah direncanakan.

”Jadi kalau misalnya, loh kok bangunan tiba-tiba kok di atas selokan, loh kok ditutup selokannya? Maksud tempat air sungai kok dipakai. Ini yang kadang-kadang yang kurang ya. Kontrolnya,” kata Dewi.

Menurut dia, menjaga kenyamanan kota menghadapi panas membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaan tata ruang. Ruang terbuka hijau yang masih tersedia perlu dipertahankan, sementara ruang yang telah beralih fungsi perlu dievaluasi dan, jika memungkinkan, dikembalikan sesuai peruntukannya.

Dewi melihat upaya pemerintah kota mengembalikan fungsi sejumlah ruang terbuka sebagai langkah yang perlu terus dikawal. Namun, pembangunan infrastruktur yang telanjur berlangsung juga menjadi tantangan tersendiri.

Selain mempertahankan vegetasi, penerapan prinsip bangunan hijau perlu dilakukan secara serius agar tidak berhenti sebagai ketentuan di atas kertas.

”Bangunan-bangunan yang green building itu harus betul-betul diterapkan. Kan banyak ada aturan green building itu. Nah, itu harus diterapkan,” tegasnya.

Baca Juga: Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

Panas Surabaya pada akhirnya bukan hanya persoalan yang datang bersama pergantian musim. Cara bangunan berdiri, ruang terbuka dipertahankan, pepohonan dirawat, dan angin mengalir di antara kawasan perkotaan ikut menentukan bagaimana warga merasakan panas setiap hari.

Tantangannya bukan sekadar membuat kota terlihat hijau, tetapi memastikan pembangunan tidak menghilangkan ruang yang dibutuhkan lingkungan untuk tetap nyaman dihuni.

Selanjutnya, bagaimana panas juga memengaruhi kehidupan satwa di tengah kota, dan apa yang dilakukan pengelola untuk melindungi mereka dari suhu tinggi?

Simak kisah para penjaga satwa dan upaya perawatan hewan di Kebun Binatang Surabaya dalam seri berikutnya. Baca terus seri ”Surabaya Panas!” di kanal Topik Pilihan JawaPos.com.


Tentang Penulis:

Dadang Kurnia lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 1990. Ia memiliki ketertarikan pada peliputan politik, ekonomi, dan isu-isu kedaerahan. Ia dapat dihubungi melalui Instagram dan TikTok di @siodongtea.

Ardini Pramitha merupakan lulusan S1 Jurnalistik dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) pada 2021. Ia memulai karier jurnalistiknya di media lokal Surabaya pada 2020, sebelum bergabung dengan JawaPos.com pada Agustus 2026.

Ardini menekuni dunia jurnalistik karena profesi ini memberinya kesempatan untuk bertemu dan menggali cerita dari berbagai tokoh penting di Indonesia.

Baca Juga: Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak

Baca Juga: Ancaman Kesehatan Mengintai Warga Surabaya, Kasus Heat Stroke Meningkat

Baca Juga: Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

EDITOR: Hendra