← Beranda
Surabaya Makin Panas, Jerapah di Kebun Binatang Lebih Sering Berteduh
Ardini Pramitha• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 21.00 WIB
Seekor jerapah berteduh di bawah bayangan pohon di Kebun Binatang Surabaya (KBS) saat cuaca panas melanda Kota Surabaya. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

JawaPos.com – Cuaca terik tak hanya menjadi tantangan bagi warga Surabaya. Di Kebun Binatang Surabaya (KBS), suhu panas juga membuat para penjaga satwa meningkatkan perhatian terhadap kondisi kandang, ketersediaan air minum, hingga asupan makanan para penghuninya.

Senin (5/10) sekitar pukul 11.00, sinar matahari menyelimuti kawasan kebun binatang. Di tengah udara yang terasa panas, Arman, penjaga satwa burung kasuari, datang membawa selang air. Langkahnya berhenti di dalam kandang.

Aliran air diarahkan ke sejumlah sudut kandang burung yang memiliki nama latin Casuarius casuarius tersebut. Air membasahi lantai, menyapu permukaan yang kering dan panas. Suara gemericik air terdengar di sela aktivitas perawatan.

Arman menjelaskan, penyiraman kandang sebenarnya merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dua kali dalam seminggu. Namun, ketika cuaca panas, frekuensinya ditingkatkan menjadi dua hari sekali.

"Kalau musim panas gini, dua hari sekali. Karena musim panas ini, kami memperlakukan hewan ini juga butuh pendingin. Dari pendingin itu kami utamakan penyiraman kandang, biar hawanya tidak panas,” kata Arman kepada JawaPos.com, Senin (5/10).

Selain menyiram kandang, Arman memastikan kolam tetap terisi air agar kasuari dapat mengakses air ketika membutuhkannya. Ketersediaan air menjadi salah satu perhatian untuk membantu menjaga kondisi tubuh satwa selama cuaca panas.

Menurut Arman, sejauh ini cuaca panas belum memengaruhi nafsu makan kasuari. Pakan tetap diberikan sesuai porsi dan kebutuhan nutrisi harian. Asupan vitamin juga menjadi bagian dari perawatan untuk menjaga kondisi satwa.

"Enggak ada gangguan kesehatan. Nafsu makan juga tidak berkurang. Kami memberikan sesuai dengan nutrisi hariannya," jelas Arman.

Arman menyiram area kandang kasuari di Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk membantu menjaga lingkungan tetap sejuk di tengah cuaca panas. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)
Arman menyiram area kandang kasuari di Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk membantu menjaga lingkungan tetap sejuk di tengah cuaca panas. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

Jerapah Lebih Banyak Berteduh saat Cuaca Panas

Perhatian serupa diberikan kepada jerapah dan rusa. Area kandang yang berada di bagian tengah KBS juga rutin disiram untuk membantu menjaga kondisi lingkungan.

Kandang jerapah memiliki area berpasir dan rumput yang ditanam di dekat pagar pembatas. Di bagian tengah terdapat tempat pakan yang dilengkapi area berteduh.

Baca Juga: Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak

Penjaga jerapah, Toni Johansyah, menjelaskan penyiraman dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi area kandang. Bagian berpasir disiram dua kali sehari, sedangkan area rumput disiram setiap hari.

"Fungsi rumput itu disiram setiap hari ini kan agar tidak kering. Panasnya matahari memang membuat penyiraman lebih cepat kering," kata Toni.

Cuaca panas juga memengaruhi aktivitas jerapah. Menurut Toni, ketika musim hujan, jerapah cenderung lebih aktif berjalan-jalan. Sebaliknya, saat cuaca panas, satwa tersebut lebih banyak berteduh setelah makan.

"Kalau musim panas biasanya dia habis makan kebanyakan berteduh. Beda dengan musim hujan. Dia lebih aktivitas jalan-jalan,” tuturnya.

Meski aktivitasnya berubah, Toni memastikan nafsu makan jerapah masih normal. Porsi makanan utama tetap diberikan seperti biasa. Penyesuaian dilakukan pada makanan tambahan yang mengandung air untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan satwa.

“Pola makan kita tetap, cuma nanti makanan tambahan itu yang mengandung kadar air. Jadi itu biar dia enggak dehidrasi,” jelasnya.

Sejauh ini, Toni menyebut belum ada laporan jerapah mengalami gangguan kesehatan akibat cuaca panas, termasuk masalah pencernaan maupun dehidrasi.

“Alhamdulillah selama cuaca ini kita belum pernah lapor ke tim medis masalah sakit. Mulai dari pencernaan atau dehidrasi belum pernah,” ujarnya.

Toni Johansyah menyiram kandang di Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai upaya mengurangi panas dan menjaga kenyamanan satwa. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)
Toni Johansyah menyiram kandang di Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai upaya mengurangi panas dan menjaga kenyamanan satwa. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

Ketersediaan air minum juga diperhatikan. Toni mengatakan air minum jerapah diganti setiap hari agar tetap bersih dan segar, sekaligus menghindari air menjadi hangat setelah terpapar sinar matahari.

“Setiap hari kami nguras air minum, jadi kami ganti baru terus. Karena kalau enggak kami isi penuh, takutnya kena sinar matahari bisa jadi hangat. Satwanya enggak minum jadi,” katanya.

Kandang Sejuk dan Air Bersih Jadi Prioritas

Bagi manajemen KBS, menghadapi cuaca panas bukan sekadar menjaga kenyamanan satwa. Suhu tinggi perlu diantisipasi melalui perawatan lingkungan dan pemantauan kondisi tubuh agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

Baca Juga: Ancaman Kesehatan Mengintai Warga Surabaya, Kasus Heat Stroke Meningkat

Kepala Departemen Animal Health KBS dr. Rahmat Suharta mengatakan, salah satu langkah utama dilakukan dengan menjaga kondisi kandang agar satwa memiliki tempat yang lebih sejuk untuk berlindung.

“Kalau untuk menghadapi cuaca panas kita memang antisipasinya dari sisi kandangnya juga. Jadi kandang memang harus diberikan sesuatu yang bisa membuat sejuk, seperti dengan cara penyiraman air di lantai kandangnya,” ujar Rahmat.

Selain penyiraman, kebersihan dan kecukupan air minum juga harus dijaga. Tempat minum perlu dibersihkan dan airnya diganti secara rutin agar kebutuhan cairan satwa tetap terpenuhi.

“Air minumnya selalu diganti sehingga terjaga kebersihannya dan selalu tercukupi,” katanya.

Rahmat menjelaskan, perubahan perilaku dapat menjadi salah satu petunjuk ketika satwa merespons suhu lingkungan yang tinggi. Satwa yang biasanya aktif bergerak bisa lebih banyak mencari tempat yang sejuk dan teduh.

“Karena kondisi panas dia akan lebih banyak mencari tempat yang dingin. Jadi tempat dingin dan tempat teduh,” tuturnya.

Karena itu, satwa yang terlihat lebih banyak diam atau berteduh tidak serta-merta berarti sedang sakit. Perilaku tersebut dapat menjadi bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Meski demikian, para penjaga dan tim kesehatan hewan tetap perlu mengamati perubahan perilaku maupun kondisi fisiknya.

Rahmat menyebut burung dan kelompok unggas menjadi salah satu jenis satwa yang perlu mendapat perhatian ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem.

Pengunjung berwisata melihat satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Pengunjung berwisata melihat satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

“Kalau yang paling rentan dalam artian pergantian cuaca itu jenis burung. Jenis unggas-unggas itu, kalau adanya suatu perubahan yang sangat ekstrem biasanya burung,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, perhatian terhadap pemberian vitamin pada kelompok satwa tersebut ditingkatkan sesuai kebutuhan perawatan.

Baca Juga: Beton, Aspal, dan Tata Kota yang Membuat Surabaya Makin Gerah

“Pemberian vitaminnya harus benar-benar ditingkatkan, sehingga akan meningkatkan ketahanan tubuh dari burung tersebut,” katanya.

“Jadi kita lebih baik mencegah sakit daripada pengobatan,” imbuhnya.

Loading...

Mengenali Tanda Dehidrasi pada Satwa

Cuaca panas tidak selalu langsung menimbulkan gangguan kesehatan yang mudah terlihat. Karena itu, pemantauan perlu dilakukan dengan memperhatikan perilaku dan kondisi fisik satwa, bukan hanya nafsu makannya.

Rahmat menjelaskan, salah satu tanda yang dapat diamati ketika satwa mengalami dehidrasi adalah perubahan pola pernapasan. Satwa bisa terlihat terengah-engah atau bernapas dengan mulut terbuka.

“Kalau ciri-ciri hewan yang dehidrasi dia akan terlihat dari napasnya. Napasnya itu terengah-engah. Kemudian mulut terbuka, dia napasnya dengan mulut terbuka,” jelasnya.

Kondisi kulit juga dapat menjadi petunjuk. Kulit yang tampak kering dan perubahan turgor atau elastisitas kulit merupakan hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan kondisi satwa.

Pengawasan, dengan demikian, tidak cukup dilakukan dengan memastikan satwa tetap makan. Perubahan fisik dan perilaku sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam pemantauan kesehatan.

Rahmat menambahkan, makanan dengan kandungan air dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan satwa saat suhu meningkat. Penyesuaian jenis makanan tambahan dilakukan dengan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi masing-masing satwa.

“Justru karena dia panas begini, dia memang membutuhkan makanan yang banyak kandungan airnya. Sehingga dia akan lebih menyukai makanan yang banyak kandungan airnya,” ujarnya.

Baca Juga: Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

Sementara itu, pola pemberian pakan tetap diatur agar kebutuhan nutrisi satwa terpenuhi. Rahmat mengatakan pemberian pakan dilakukan setidaknya dua kali sehari.

“Minimal dua kali, pagi kemudian siang,” kata Rahmat.

Perawatan Satwa Berjalan Sepanjang Tahun

Menjaga kesehatan satwa bukan hanya pekerjaan yang dilakukan ketika matahari sedang terik. Sejumlah rutinitas perawatan tetap berjalan setiap hari, termasuk ketika cuaca relatif normal.

Salah satunya adalah pemberian obat cacing setiap tiga hingga empat bulan. Menurut Rahmat, langkah tersebut bertujuan mencegah parasit mengganggu proses penyerapan makanan sehingga nutrisi dari pakan dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Dengan asumsi bahwa cacing akan mengganggu berjalannya proses penyerapan makanan sehingga kalau kita cegah, makanan yang kami berikan akan lebih maksimal terserap,” terang Rahmat.

Sepasang jerapah koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS). (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Sepasang jerapah koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS). (Riana Setiawan/Jawa Pos)

Kebersihan kandang juga menjadi bagian penting dalam perawatan. Sisa makanan dan kotoran harus segera dibersihkan. Para penjaga satwa bertanggung jawab menjaga kebersihan kandang sekaligus memastikan pakan diberikan sesuai jadwal.

Di tengah cuaca panas, pekerjaan para penjaga satwa mungkin terlihat sederhana: menyiram kandang, mengganti air minum, membersihkan kotoran, menyiapkan pakan, dan mengamati perilaku hewan. Namun, rutinitas tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan satwa ketika kondisi lingkungan berubah.

Rahmat mengatakan, hingga saat wawancara dilakukan, belum ada laporan satwa yang sakit akibat cuaca panas.

“Kalau untuk cuaca panas, alhamdulillah enggak ada,” ujarnya.

Surabaya boleh terasa terik bagi manusia. Namun, di balik pagar-pagar kandang KBS, para penjaga dan tim kesehatan hewan terus melakukan perawatan agar satwa memiliki tempat untuk berteduh, air minum yang cukup, serta makanan dan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Bagi satwa, menghadapi panas bukan semata-mata soal bertahan di bawah terik matahari. Ketersediaan tempat teduh, kecukupan cairan, pemenuhan nutrisi, dan pemantauan kondisi tubuh menjadi bagian dari upaya menjaga mereka tetap sehat.

Kisah di KBS menutup rangkaian lima tulisan “Surabaya Panas!”. Sebelumnya, seri ini menelusuri bagaimana panas memengaruhi pengeluaran rumah tangga, perjuangan pekerja informal mencari nafkah, risiko kesehatan warga, hingga peran beton, aspal, dan tata kota dalam membentuk suhu lingkungan.

Dari kehidupan manusia hingga satwa, panas bukan sekadar angka pada termometer. Dampaknya terasa dalam cara makhluk hidup bekerja, beraktivitas, beradaptasi, dan bertahan menjalani hari.

Baca selengkapnya rangkaian reportase ini di kanal Topik Pilihan JawaPos.com.


Tentang Penulis:

Dadang Kurnia lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 1990. Ia memiliki ketertarikan pada peliputan politik, ekonomi, dan isu-isu kedaerahan. Ia dapat dihubungi melalui Instagram dan TikTok di @siodongtea.

Ardini Pramitha merupakan lulusan S1 Jurnalistik dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) pada 2021. Ia memulai karier jurnalistiknya di media lokal Surabaya pada 2020, sebelum bergabung dengan JawaPos.com pada Agustus 2026.

Ardini menekuni dunia jurnalistik karena profesi ini memberinya kesempatan untuk bertemu dan menggali cerita dari berbagai tokoh penting di Indonesia.

Baca Juga: Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak

EDITOR: Hendra