
Lukisan Masjid Bahrul Ulum, Tambakberas, karya Muhammad Choirul Anas (70 x 50 cm, cat air di atas kertas).
MUHAMMAD Choirul Anas lama mengamati selembar kertas putih di depannya. Sesaat kemudian dia mulai mencoret-coretnya dengan lincah menggunakan pensil. Goresan-goresan dari tangan seniman asal Jombang itulah yang juga telah menghasilkan deretan lukisan masjid yang dipamerkan di lobi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha), Jombang, selama hampir dua bulan. Pameran bertajuk Pesona 100 Masjid Nusantara tersebut berlangsung sejak 7 Maret hingga 20 April lalu.
Lukisan-lukisan masjid dari berbagai penjuru Nusantara itu tidak hanya dibuat Anas sendirian. Ada dua pelukis lain yang ambil bagian. Yakni, Sholeh Nugroho dan Joko Priono. ”Sebenarnya hanya sampai 7 April. Tapi, pihak Minha minta diperpanjang sampai Lebaran. Tambah senang kami,” kata Anas kepada Jawa Pos pekan lalu (18/4).
Pria yang juga ahli melukis kaligrafi itu menjelaskan, dirinya dan rekan-rekan butuh waktu sekitar tiga minggu untuk menyiapkan 100 lukisan masjid yang dipamerkan. Angka seratus dipilih dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Nahdlatul Ulama.
Sempat tercetus ide untuk mengangkat tema 100 tokoh Islam Indonesia dalam pameran ini. Namun, setelah mempertimbangkannya lagi, dia dan teman-teman akhirnya memilih tema 100 masjid. Masjid-masjid yang dipilih sebagai objek lukisan adalah yang mereka anggap memiliki desain unik, kuno, dan bersejarah.
Proses kurasi masjid yang akan dilukis dilakukan melalui berbagai cara. Ada yang didatangi langsung, menilik koleksi foto pribadi, hingga berselancar di dunia maya. ”Kami pilih media lukisan cat air karena lebih simpel daripada lukisan cat akrilik. Meski, dalam tekniknya ada kesulitan tersendiri,” jelas Anas.
Pria yang menjabat ketua Komunitas Pelukis Jombang (Kopijo) itu mengungkapkan, ada perbedaan teknik dalam melukis cat akrilik dan cat air. Dengan cat akrilik, warna dasar gelap di lukisan masih bisa ditindih dengan warna terang di atasnya. Teknik itu tidak bisa dilakukan saat melukis dengan cat air. ”Jadi, kebalikannya. Kalau cat air, dasarnya gelap sehingga tidak bisa diterangin lagi,” ungkap pria yang memegang sertifikat sanad ilmu kaligrafi khot langsung dari Syekh Belaid Hamidi dari Maroko tersebut.
DAPAT ATENSI: Pameran lukisan di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy
Dari 100 lukisan masjid yang dipamerkan, Anas dan Joko masing-masing menyumbang 20 lukisan. Sementara, Sholeh menyumbang paling banyak, yaitu 60 lukisan.
Nah, di antara 20 lukisan yang dibuat, Anas menyebut bahwa ada satu yang paling berkesan. Itu adalah Masjid Jami’, Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Masjid yang sudah berdiri ratusan tahun itu punya sejarah panjang sejak zaman revolusi kemerdekaan. Kebetulan, Anas juga alumnus ponpes tersebut.
Masjid makam Mbah Buyut Sona di Kecamatan Kabuh, Jombang, juga menyita perhatian. Posisi masjid itu yang menjulang di tengah lubang raksasa area galian C digambarkan dengan apik melalui coretan tangan dalam lukisan cat air tersebut.
”Sengaja kami buat beberapa versi ukuran lukisan. Ada yang besar dan kecil. Menyesuaikan kebutuhan tempat di lokasi pameran juga,” ujar Anas.
Asisten Humas dan Pemasaran Minha Iska Nisfulailia menyebut Pameran Lukisan Cat Air Pesona 100 Masjid Nusantara sebagai salah satu program untuk menyemarakkan Ramadan di Minha. Dukungan penuh diberikan museum yang dikelola langsung oleh Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut karena sejalan dengan visi Minha dalam mengangkat sejarah keislaman di Indonesia. ”Alhamdulillah, antusiasme pengunjung pada pameran ini juga bagus. Apalagi pada momen akhir pekan,” tutur Iska. (irr/c14/dra)
SYIAR: Sebanyak 100 lukisan masjid dari berbagai wilayah di Nusantara menjadi objek lukisan dalam pameran di Minha, Jombang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
