
MERUANG: Pameran The Dagingtumbuh Vol 21 Partai Komik Fotokopi memanfaatkan dinding, lantai, dan langit ruangan DGTMB Shop sebagai ruang pajang karya.
Perupa Eko Nugroho mengakrabi komik sejak 24 tahun lalu. Komik The Dagingtumbuh yang dibuat setahun sekali tersebut sudah masuk edisi ke-21 pada 2024 ini. Dan, untuk edisi ini, isi komik yang bertajuk Partai Komik Fotokopi itu ditampilkan berbeda.
”MENGAJAK pembaca komik merasakan pengalaman berbeda dengan mereka masuk dan jadi bagian dari dunia komik The Dagingtumbuh,” kata Eko Nugroho dalam pesan singkat kemarin (21/6).
Pameran komik The Dagingtumbuh Vol 21 yang berlangsung di DGTMB Shop sejak 8 Juni hingga 7 Agustus memang memakai dua ruangan. Di dua ruangan itu, isi komik vol 21 dipindahkan ke dinding dan lantai.
SATIRE: Teks yang muncul di Pameran The Dagingtumbuh Vol 21 Partai Komik Fotokopi menangkap suara-suara yang muncul di masyarakat.
Alhasil, gambar-gambar di komik pun bertiwikrama. Yang semula cuma seukuran jari manusia lantas berubah beratus kali lipat ukurannya. Bahkan, ada yang melebihi tinggi badan manusia pada umumnya.
Nah, Eko menyatakan bahwa vol 21 ini memang mengambil tema pesta demokrasi yang baru saja selesai. Seperti edisi sebelumnya, ada sekitar 30 seniman yang menyetorkan hasil gambarnya untuk masuk dalam komik The Dagingtumbuh Vol 21 ini.
Karya Patub Porx berjudul Mushroom Not Magic.
”Jadi, volume 21 ini merekam hiruk pikuk demokrasi pada pemilihan beberapa bulan lalu. Komik memotret hiruk pikuk partai, korupsi, nepotisme, dan hal-hal lain yang jadi wacana umum di masyarakat. Dagingtumbuh mengolah itu semua dalam bentuk visual,” jelas Eko.
Pameran ini juga menjadi ”cubitan” atau ”jeweran” buat elite di negeri ini. Lihat saja karya Agus Sam Suga yang berjudul Balada Koruptor Beristri Cantik. Di karya tersebut terlihat seorang laki-laki sedang berusaha memikat perempuan. Di belakang gambar itu terdapat teks, ”Masuk partai yuk dik. Biar nikahannya bisa konvoi ala ormas”.
Ada juga potret soal ribut-ribut tambang oleh ormas keagamaan dalam karya Patub Porx yang berjudul Mushroom Not Magic. Dalam gambar orang yang berjabat tangan, ada teks, ”Mari kita jaga kerukunan antarumat beragama pengurus tambang”.
Sementara itu, kurator pameran Terra Bajraghosa menyebut pembuatan komik The Dagingtumbuh yang digagas Eko Nugroho sebagai sebuah konsep bentuk galeri seni yang berjalan.
Baca Juga: Sajak: Di Pasar Kembang
Eko Nugroho.
Dalam catatan kuratorialnya, Terra menulis pameran ini seperti memutar balik dan menawar ulang konsep galeri berjalan yang diusung Dagingtumbuh sejak 2000 tersebut.
”Kali ini galerinya memang beneran meruang secara fisik, menempati ruangan yang memang disediakan untuk sparring partner, bertanding, berversus oleh The Dagingtumbuh aka DGTMB aka Eko Nugroho. Dan, tentu ada-ada saja pendekatan yang berbeda supaya kesegaran terus terjaga,” tulis Terra.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
