
Forum CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026 di Jakarta, Kamis (25/6). (Istimewa)
JawaPos.com - Dinamika geopolitik saat ini memicu volatilitas jalur perdagangan. Dampaknya menghambat rantai pasok barang. Pelaku usaha logistik terpaksa harus membuat mitigasi agar dapat meminimalisasi risiko.
PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) termasuk salah satu pelaku usaha yang terdampak dari dinamika geopolitik. Mereka terus berupaya mencari solusi-solusi dalam memitigasi bisnis dan melayani konsumennya.
"Kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi. Sinergi ini mutlak diperlukan agar kita dapat memitigasi risiko, menghadapi berbagai skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi tetap berputar lancar,” ujar Direktur CKB Logistics Iman Sjafei kepada wartawan pada Sabtu (27/6).
Ajakan itu juga dikemukakannya dalam forum bertajuk CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026 di Soehanna Hall, The Energy Tower SCBD, Jakarta, Kamis (25/6) sore. Diskusi itu mengusung tema "Resilient Supply Chain: Navigating Global Disruption Through Logistics Collaboration".
Forum iru mempertemukan perusahaan dari berbagai industri dan para pelanggan untuk membangun strategi adaptif. CKB Logistics turut menggandeng Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Sebagai mitra logistik yang terpercaya dan terintegrasi, anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM) ini menegaskan kesiapannya dalam menghadapi berbagai tantangan industri serta disrupsi supply chain global.
Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics Ety Puspitasari menambahkan, manajemen rantai pasok industri strategis perlu segera bertransformasi. Pendekatan operasional tidak bisa lagi hanya berpusat pada efisiensi biaya (efficiency-driven), tetapi harus beralih mengutamakan ketangguhan (resilience-driven).
Baca Juga:Asosiasi Nilai Aturan Penghentian MBG saat Libur Sekolah Berpotensi Ancam Rantai Pasok Pangan
“Resilience-driven tidak dicapai dengan hanya menghindari gangguan secara mutlak saja, melainkan melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik. Tujuannya agar pemulihan bisnis dapat berjalan jauh lebih cepat atau recover faster saat krisis terjadi,” jelas Ety.
Ety menerangkan, untuk menaklukkan tantangan operasional, perusahaan harus mengimplementasikan manajemen risiko rantai pasok yang menyeluruh. Hal itu berpijak pada kerangka kerja terintegrasi yang mencakup tata kelola risiko (risk governance), visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022