Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Mei 2023, 13.40 WIB

Cipung

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Drs Zendi datang. Hari itu hujan juga turun tak kalah lebatnya. Orang-orang berkumpul di kantor desa. Drs Zendi menjelaskan kenapa ia mengunjungi para nelayan. Ia bilang selama ini nasib nelayan jarang diperhatikan. ”Padahal bangsa kita adalah bangsa bahari. Bangsa pelaut yang hidup dan matinya bergantung kepada laut,” katanya. Oleh karena nasib nelayan jarang mendapat perhatian, dibutuhkan seorang wakil di badan legislatif untuk menyuarakan ketidakadilan yang dihadapi para nelayan itu. Desa nelayan harus sejahtera, para nelayan mesti bisa bekerja dengan tenang dan senang. Segala kebutuhannya wajib dipenuhi. Keadilan sosial tak boleh pandang bulu.

Drs Zendi bicara dengan tenang. Suaranya jelas dan jernih. Wajahnya juga memancarkan tekad dan kesabaran, sekaligus keteduhan; tanda bahwa ia bukan cuma pintar, melainkan juga rajin beribadah. Kata-katanya seperti menyebar kehangatan di dalam ruangan, menghalau dingin dari hujan di luar. Orang-orang mendengarkan dengan takzim sembari mengisap dan mengembuskan asap rokok dari tembakau pilitan. Hampir semua orang dalam ruangan itu merokok sehingga sebentar saja ruangan sudah penuh asap bagaikan kabut di lingkar gunung. Kepala desa yang duduk di dekat Drs Zendi sesekali manggut-manggut, matanya memancarkan keharuan.

Setelah bicara beberapa lama, Drs Zendi kemudian memberikan kesempatan kepada para nelayan itu untuk bertanya. Seorang perempuan, yang juga merokok, mengacungkan tangan dan tanpa menunggu dipersilakan ia langsung berdiri. ”Begini, Pak. Suami saya kan mau berangkat ke Malaysia. Tapi dia tak punya uang. Bagaimana ya kira-kira caranya?”

Seorang laki-laki tua ikut mengangkat tangan. ”Dulu banyak ikan besar di laut. Ikan besar yang enak rasanya, namanya ikan Marhen. Ke mana ikan-ikan itu sekarang?”

Seorang laki-laki yang tak kalah tuanya bertanya apakah mereka bisa diajarkan cara membuat solar. Setelah laki-laki tua itu banyak lagi yang bertanya. Bahkan sampai Drs Zendi mulai melihat-lihat jam tangannya, orang-orang masih banyak yang bertanya. Perempuan yang pertama-tama bertanya tadi kembali bertanya, begitu juga laki-laki tua yang bertanya soal ikan Marhen, begitu juga laki-laki tak kalah tua yang bertanya cara membuat solar. Alhasil, kepala desa yang tahu bahwa Drs Zendi harus pergi menenangkan para warga dengan cara yang sama sekali tidak tenang; ia menggebrak-gebrak meja. Namun, tak ada yang peduli. Orang-orang terus melontarkan pertanyaan. Drs Zendi akhirnya pergi terburu-buru dengan payung yang dipinjamkan kepala desa, meninggalkan kepulan pertanyaan di belakangnya, seakan ia adalah mesin kendaraan yang tiap melesat akan meninggalkan kepulan asap.

***

Sri, anak Cipung, tak tersembuhkan. Meski Cipung sempat membawa anak itu ke puskesmas, tetap saja nyawa Sri tak bisa dicegah untuk melayang entah ke mana. Memang ada puskesmas di desa itu, tapi tak ada bidan atau petugas kesehatan. Cuma ada seorang laki-laki jompo yang tinggal di sana. Tampaknya laki-laki jompo itu adalah pasien terakhir yang, karena belum mendapat petunjuk mesti pulang atau tetap dirawat, percaya bahwa suatu hari ada dokter yang datang untuk menyembuhkan penyakitnya. Bidan di puskesmas itu sudah lama kabur karena merasa dijebak. Ia dapat beasiswa sekolah perawat dan mesti menandatangani kontrak mengabdi di puskesmas desa. Akan tetapi karena gaji yang diterimanya tak masuk akal, baru setahun dari tujuh tahun kontrak yang dijalaninya, ia sudah angkat kaki dari puskesmas itu.

Cipung dan istrinya meraung-raung. Para warga lain yang melihat mereka juga ikut meraung-raung. Peristiwa itu terjadi tepat di hari kedatangan Drs Zendi. Cipung dan istrinya tak hadir di kantor desa, dan ketika Drs Zendi sudah lenyap, orang-orang yang mendengar raungan Cipung segera bergegas menuju puskesmas. Di antara mereka tentu saja ada Regen dan Pelos.

Mendengar kabar dan melihat sendiri bahwa Sri telah mati, dengan segera Pelos mengayunkan tangannya ke muka Cipung. Kepalan tangannya menghantam berkali-kali, sembari mulutnya tak henti memaki: ”Bodoh! Kau tidak bisa menjaga anakmu!”

Cipung terhuyung-huyung sambil terus meraung-raung. Regen menarik tubuh Pelos agar menjauh dari Cipung. Darah mengucur dari hidung Cipung. Lantas, setelah mengusap mata dan hidungnya, Cipung meraih tubuh Sri yang sedari tadi terbaring di ranjang puskesmas. Tubuh yang perlahan mulai mendingin. Laki-laki jompo penghuni puskesmas segera kembali berbaring di ranjang itu seakan-akan di sekitarnya tak terjadi apa-apa.

Cipung mengangkat tubuh Sri ke atas kepalanya sebelum kemudian berjalan keluar. Di belakangnya orang-orang mengikuti. Seseorang berseru: ”Ambil jeriken!” Orang-orang berhamburan ke rumah masing-masing, tapi tak semua mengambil jeriken. Ada yang membawa ember, panci, atau tas plastik. Mereka bergerak mengikuti Cipung. Istri Cipung meraung-raung sambil memegang baju bagian belakang Cipung. Ia jadi tampak seperti sedang memegang tali kekang seekor bagal.

”Pom! Pom!” teriak Regen. Orang-orang bersorak. Mereka bergerak menuju stasiun pengisian bahan bakar umum.

***

”Isunya sedang panas. Nelayan-nelayan itu perlu diberi perhatian. Jumlah mereka cukup banyak, terutama di saat-saat krisis seperti ini. Kalau isu itu bisa dipakai, akan bagus untuk partai,” kata Muzifar SH. Ia sedang mengisi bahan bakar ketika Drs Zendi menyapanya. Setelah mengisi bahan bakar, keduanya menepi sebentar di dekat isi angin gratis. Sudah sejak lama Drs Zendi mengagumi Muzifar SH yang tak lain adalah mentornya. Mereka bercakap-cakap sembari sesekali memperhatikan hujan yang perlahan berubah menjadi tepung air. Udara sejuk memberi kesan muram, baik pada jalanan maupun pada paras kedua orang itu.

”Mereka semua sudah gila. Cobalah datang ke sana dan kau akan membuktikan kata-kataku,” ujar Drs Zendi. Muzifar SH mengangguk-angguk. Ia tahu lawan bicaranya masih muda. Kelak di tahun-tahun mendatang Drs Zendi akan paham bahwa kegilaan para nelayan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kegilaan orang-orang di parlemen.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore