Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Februari 2025 | 20.32 WIB

Pria Legendaris Berkaki Cacat

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

++

Namun, hidup dengan membawa kecewa adalah masalah. Dan masalah hidup selalu menjadi berlipat-lipat. Lalu, ia sadar hidup adalah medan perang yang lebih mengerikan bagi orang-orang tanpa kemerdekaan seperti dirinya. Setidaknya itu yang dia rasakan ketika hidup di masa kemerdekaan sebagai bangsa. Bertahun-tahun ia berjuang untuk bangsanya, tetapi tak mampu menikmatinya. Sepanjang hidupnya ia telah belajar cara bertahan dan bertempur. Namun, semua yang dihadapinya saat ini adalah perang terbuka yang tak terlihat. Semua itu bisa membunuhnya kapan saja.

Jadi, pertama kali ia mencuri, itu terjadi mungkin hanya karena takdir sedang membuka pintunya. Seorang pria di pasar menjatuhkan dompetnya dan ia memungutnya. Untuk sesaat, ia berniat untuk mengembalikannya. Tapi, kemudian ia melihat uang kertas yang masih segar di dalamnya dan celakanya perutnya berniat lain dan berteriak lapar. Malam itu, ia makan seperti seorang raja. Tapi, makanan itu berubah menjadi debu di mulutnya. Ia bukan pencuri, katanya pada dirinya sendiri. Harga dirinya terganggu. Seharusnya ia melakukan yang lebih dari sekadar mencuri. Itu pikirannya. Maka, untuk kedua kalinya ia melakukannya dengan sengaja. Sesuatu yang lebih bermartabat dan jahat, menjadikan dirinya seorang kombatan seperti ketika ia bergerilya untuk republik ini. Sebuah toko gadai diserbunya dengan membongkar jendela dan memecahkan kacanya, lalu beberapa cincin ia rampas. Selanjutnya, ia mempersenjatai dirinya dengan senjata api dan selanjutnya ia membunuh dan belajar bagaimana menghilang.

++

Pada akhir tahun 1960-an, Kusni Kasdut telah menjadi legenda. Koran-koran menyebutnya sebagai hantu, hantu kota. Ia merampok bank dengan berpakaian seperti polisi, berjalan melewati pos pemeriksaan tanpa menoleh, dan lenyap sebelum tinta mengering di poster-poster buronan. Orang-orang miskin memujanya karena ia selalu membagikan rampokannya kepada mereka.

Suatu malam, ia melihat dirinya di cermin dan melihat dirinya bukan sebagai pahlawan yang terlupakan, tetapi seseorang yang melawan hukum pemerintah yang telah membuangnya. Ia bukan lagi Kusni Kasdut, pahlawan kemerdekaan yang dipuja oleh kaum miskin, tetapi tidak diinginkan negaranya. Tapi, saat ini, ia bisa menjadi siapa pun yang ia inginkan.

Tapi, legenda tidak akan bertahan selamanya. Hidup itu fana.

++

Perampokan yang akan mengakhiri semuanya dimulai pada suatu sore yang hangat di tahun 1970-an. Museum Gadjah sepi, lantai marmernya terasa sejuk di balik seragam polisi yang dipakainya. Berlian itu terletak di balik kaca di lantai atas, bersinar seperti janji kehidupan yang lebih baik. Dengan cermat, ia telah merencanakan segalanya: masuk, melarikan diri, dan menukarkannya dengan uang yang akan memberinya nama baru dan negara baru.

Yang tidak ia rencanakan adalah saat setelah perampokan dan itu ia sadari ketika ia tidak punya tempat untuk lari.

Ia tertangkap beberapa minggu kemudian, dikhianati oleh seseorang yang pernah memanggilnya saudara. Ia diseret di jalanan dengan tangan diborgol, melewati orang-orang yang pernah membisikkan namanya dengan penuh kekaguman. Sang legenda yang terbang seperti dewa telah menjadi manusia lagi dan manusia tentu saja hanya makhluk biasa yang bisa berdarah.

++

Di dalam penjara, waktu kehilangan bentuknya. Hari-hari melebur satu sama lain dan dinding-dindingnya seakan bernapas dengan beban semua orang yang telah menunggu di sini sebelumnya. Ia teringat akan hutan, akan perang, akan surat yang telah menentukan nasibnya bertahun-tahun lalu. Kusni Kadut tertawa bersama tembok dan terali besi. Ia telah berjuang untuk Indonesia, tapi Indonesia tidak berjuang untuknya.

Mereka datang menjemputnya sebelum fajar. Dan ia bangkit tanpa ragu, seolah mematuhi perintah yang diberikan sejak lama. Koridor itu berbau tanah lembap, berkarat, dan pesing kecoak. Sesuatu yang suram dan lebih tua dari kematian itu sendiri. Ia berjalan seperti saat ia berjalan melewati hutan, melewati medan perang, melewati tahun-tahun yang telah membawanya ke sini.

Ketika berjalan menuju kematiannya, ia teringat akan hujan yang telah membasuh tinta dari suratnya bertahun-tahun lalu. Dengan rasa penasaran yang masygul, ia bertanya-tanya apakah ada pejuang-pejuang lain yang terlupakan seperti dirinya, sedang berdiri dalam antrean, menunggu harapan yang tidak akan pernah datang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore