Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Mei 2020 | 04.00 WIB

Indef Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Bisa Terkontraksi -0,69%

Aktifitas kerumunan warga di Pasar Tradisional Kebayoran Lama, Jakarta Jumat (1/5/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan himbauan perlunya warga melakukan social distancing dan physical distancing demi mencegah meluasnya wabah virus corona. - Image

Aktifitas kerumunan warga di Pasar Tradisional Kebayoran Lama, Jakarta Jumat (1/5/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan himbauan perlunya warga melakukan social distancing dan physical distancing demi mencegah meluasnya wabah virus corona.

JawaPos.com - Di tengah wabah Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk Triwulan I 2020 tercatat sebesar 2,97 persen. Bagaimanakah proyeksi untuk Triwulan II 2020?

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di Triwulan II 2020 terkontraksi atau tumbuh negatif. Adapun, hal ini terproyeksi melalui tiga skenario penanganan Covid-19 tergantung dengan kelancaran kebijakan insentif fiskal yang diberikan pemerintah.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef M Rizal Taufikurahman menjelaskan, untuk skenario pertama, yakni skenario berat di mana Covid-19 akan selesai dalam satu bulan. Namun, di karenakan skenario tersebut tidak relevan karena penanganan Covid-19 di Indonesia tak selesai dalam satu bulan, maka hanya tersisa dua skenario, sangat berat dan sangat berat sekali.

"Artinya tinggal dua skenario dan skenario mana yang terjadi atau mana yang cocok? Saya kira akan tergantung dari cepat lambatnya pelandaian kurva Covid-19," terangnya melalui webminar, Rabu (6/5).

Kemudian, jika penanganan virus membutuhkan waktu selama tiga bulan, pertumbuhan ejonomi di kuartal kedua 2020 akan terkontrasi mencapai -0,15 persen. Skenario ini dipakai dengan anggapan bahwa penanganan Covid-19 selesai pada akhir Mei dan pemulihan pada Juni 2020.

Namun, jika hingga bulan Juni kurva Covid-19 belum melandai, maka pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2020 diproyeksikan akan berada di angka -0,69 persen atau memasuki skenario sangat berat sekali.

"Ketiga skenario sangat berat sekali dimana penanganan wabah sampai 6 bulan, kontraksinya -0,69 persen. Ini sangat tergantung kepada efektivitas kebijakan antisipasi penyebaran Covid-19. Ditambah seberapa besar efektivitas stimulus atau insentif fiskal itu sendiri," tambahnya.

Kemudian, untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020, dikatakan bisa mencapai 0,70 persen jika mengikuti skenario pertama atau berat yang sebesar 1,42 persen dan -0,26 persen jika mengacu ke skenario kedua atau sangat berat sekali. Namun, pertumbuhan negatif tersebut akan berbalik positif pada tahun 2021 dengan pertumbuhan sebesar 5,77 persen.

Proyeksi 2021 tersebut mengasumsikan stimulus fiskal dapat berjalan dengan baik, disertai dengan kebijakan moneter yang saling memperkuat dan berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi yang semakin prudent. Apabila tak terjadi demikian, proyeksi tersebut bisa jadi berubah.

"Dengan asumsi dampak dengan berbagai kebijakan dengan recovery yang cepat, apalagi digelontorkan Rp 405 triliun dan kemungkinan akan ada tambahan karena ini masih kurang nendang," ungkap dia.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore