
Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI) Achmad Tjachja Nugraha. (Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com - Capaian produksi pangan nasional yang terus meningkat mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Namun, peningkatan produksi dinilai perlu diikuti pembenahan tata niaga dan distribusi agar manfaatnya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga konsumen.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa berdasar laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.
Mentan menyebut capaian tersebut turut mendorong peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Selain itu, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Menanggapi berbagai capaian tersebut, Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI) Achmad Tjachja Nugraha menilai program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah merupakan langkah yang baik. Namun, dia mengingatkan agar pelaksanaannya di tingkat teknis dicermati secara detail.
"Nah namun tataran teknis itu harus kita cermati secara detail secara tegas agar apa niat baik yang dilakukan oleh pemerintah itu sama dengan yang diharapkan masyarakat," ujar Achmad Tjachja Nugraha saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6).
Menurut Achmad, peningkatan produksi pangan memang merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Namun, ia mempertanyakan kondisi harga beras yang masih tinggi di tengah meningkatnya produksi.
"Misalnya tadi, sesuatu yang menurut kita harus kita pikirkan adalah memang faktanya produksi meningkat. Kan kita jelas. Tapi yang menarik adalah kenapa harga beras nggak bisa turun? Kan kalau bicara supply-demand kan itu sesuatu anomali," kata Achmad Tjachja Nugraha.
Dia menilai persoalan ketahanan pangan tidak dapat dilihat semata-mata dari sisi produksi. Pemerintah, kata dia, perlu memperhatikan berbagai aspek lain yang memengaruhi harga pangan di tingkat konsumen.
"KASAI melihat pemerintah bukan hanya fokus terhadap produksi yang semu nih. Kita harus kolaborasi secara komprehensif dan integral karena ternyata ketahanan pangan bukan hanya masalah produksi," terang Achmad Tjachja Nugraha.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
