Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 April 2026 | 20.36 WIB

Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi, Padahal kalau Naik Rp 500, Negara Tak Perlu Tambah Utang Rp 23,95 Triliun

ILUSTRASI Kilang KPI. Negara bisa menghemat pembiayaan utang jika berani melakukan penyesuaian harga BBM di tengah kenaikan harga minyak dunia. - Image

ILUSTRASI Kilang KPI. Negara bisa menghemat pembiayaan utang jika berani melakukan penyesuaian harga BBM di tengah kenaikan harga minyak dunia.

JawaPos.com – Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel. Namun saat ini, harga minyak berada pada rentang USD 100-115 per barel, imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pada level harga rata-rata USD 100 per barel ini, deviasi terhadap asumsi APBN sudah mencapai 43 persen, dan memicu fenomena fiscal space erosion alias pengikisan ruang fiskal, yang signifikan. Akan tetapi, dengan pertimbangan menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memutuskan untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun.

"Subsidi terhadap BBM akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun dan harga BBM bersubsidi tidak akan naik. Anggaran kita cukup," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers mengenai kebijakan harga BBM bersubsidi dan transportasi udara di Jakarta, Senin (6/4).

Kenaikan harga minyak mendorong eskalasi belanja negara secara signifikan, sehingga defisit berpotensi menembus di atas 3 persen PDB apabila tren ini berlanjut. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, kebijakan boleh populis tetapi harus rasional.

"Jangan populis irasional. Karena kalau populis irasional, kombinasi itu akan menghancurkan semua tatanan, saya kira," katanya dalam diskusi yang digelar Energy & Mining Editor Society (E2S) bertajuk Menjaga Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia, Kamis (9/4).

Komaidi memahami, penting bagi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, beban fiskal APBN yang sebagian juga akan ditanggung oleh neraca Pertamina, perlu menjadi perhatian. 

Belum lagi risiko meningkatnya Debt Service Coverage Ratio (DSCR) yang berimbas pada penurunan rating surat utang negara. Oleh karena itu, untuk memitigasi perubahan APBN, ReforMiner Institute melakukan simulasi dampak melalui lima skenario kenaikan harga BBM.

Skenario kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap subsidi dan kompensasi. (bahan paparan ReforMiner Institute)

Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan harga BBM justru membantu mengurangi defisit negara, menekan dampak eskalasi ICP, dan menjaga APBN tetap berada pada zona aman. Berikut rinciannya:

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore