Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 22.14 WIB

Teknologi WTE Mulai Didorong di Indonesia, Sampah Bisa Jadi Energi

ILUSTRASI: Sampah bisa jadi energi. (IST) - Image

ILUSTRASI: Sampah bisa jadi energi. (IST)

JawaPos.com - Teknologi Waste-to-Energy (WTE) menjadi salah satu opsi dalam pengembangan energi berkelanjutan sekaligus mendukung pengelolaan sampah. Namun, penerapannya membutuhkan kesiapan teknologi, ekosistem, dan sumber daya manusia.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Energy Week 2026 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 22–23 September 2026 dengan tema “Energizing the Future”.

PT CCEPC Environment Protection and Energy Comprehensive Utilization Indonesia (CCEPC Indonesia) menjadi sponsor utama sekaligus terlibat dalam sejumlah agenda terkait teknologi energi, WTE, dan inovasi generasi muda.

Engineering Consultant CCEPC Indonesia, Daffa Khairi, mengatakan teknologi WTE yang telah diterapkan di berbagai negara perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.

“CCEPC Indonesia hadir untuk berbagi pengalaman dari proyek-proyek yang telah kami jalankan secara global. Namun, pengalaman tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia,” ujar Daffa dalam diskusi Advanced Power Plant and Waste to Energy Technologies for Sustainable Energy Development.

Menurutnya, pengembangan teknologi juga perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan talenta lokal, termasuk dalam aspek engineering dan operasional proyek.
CCEPC Indonesia sendiri memiliki bidang usaha yang mencakup pemanfaatan energi bersih, pengolahan sampah, pengolahan gas buang, pengolahan air limbah, hingga pemulihan lingkungan.

Sementara itu, ESG & Business Sustainability Senior Specialist CCEPC Indonesia, Aie Natasha, menekankan bahwa pengembangan WTE tidak cukup hanya melihat sisi teknologi.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi juri dalam Waste-to-Energy Conversion Conceptual Design Competition yang diikuti 10 finalis dari berbagai institusi riset dan perguruan tinggi.

“Ketika sebuah teknologi masuk ke ekosistem yang sudah berjalan, tentu ada berbagai risiko dan perhitungan yang perlu diperhatikan. Kita perlu melihat bagaimana teknologi itu dapat terintegrasi dengan sistem yang sudah ada dan seperti apa risiko implementasinya,” kata Aie.

Ia juga menilai kesiapan offtaker dan model pengembangan proyek perlu diperhitungkan sejak awal, terutama untuk teknologi yang masih relatif baru.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore