Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Maret 2022 | 14.48 WIB

Kisah Meme, Bocah 8 Tahun yang Orang Tuanya Masuk Bui

TETAP TABAH: Meme (kanan), bocah bernasib malang, sedang berada di rumah adik ibunya. Kasus Meme membutuhkan perhatian banyak pihak. (Dimas Nur Apriyanto/Jawa Pos) - Image

TETAP TABAH: Meme (kanan), bocah bernasib malang, sedang berada di rumah adik ibunya. Kasus Meme membutuhkan perhatian banyak pihak. (Dimas Nur Apriyanto/Jawa Pos)

Meme adalah satu cerita kerasnya kehidupan anak di Surabaya. Terpisah dari kasih sayang orang tua dan menjadi korban kekerasan ayah tiri. Butuh perhatian banyak pihak.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

RAUT wajah Meme tampak riang. Sore itu, gadis kecil tersebut baru saja mandi. Rambutnya masih basah. Klimis dari pangkal hingga ujung rambut. Sesekali dia menata rambutnya. ’’Ini sudah nggak sakit. Ini juga, di punggung ada lagi,” kata Meme sambil mengarahkan jari telunjuknya ke bagian yang dimaksudkannya.

Meski menunjukkan bekas luka, tidak ada wajah yang merepresentasikan rasa takut. Atau ekspresi sedih. Meme justru tersenyum. Padahal, anak-anak di usia Meme seharusnya punya cerita yang menyenangkan dan lebih berwarna. Seperti cerita bagaimana teman-temannya di sekolah.

Sejak Desember lalu, Meme terpisah dari ibunya. Ibu dan ayah tirinya harus masuk ke hotel prodeo karena kasus pencurian sepeda motor. Keduanya ditangkap di Gresik. Kabar tersebut terendus Isabel. Isabel adalah adik keempat ibu Meme. ’’Meme ini anak kedua kakak saya. Meme punya kakak, tapi dibawa sama ayah kandung,” tutur Isabel.

Isabel tinggal di Kalibutuh, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. Sementara itu, Meme dan ibunya tinggal bersama keluarga ayah tiri di Kecamatan Bulak. Dua hari setelah tahu kabar penangkapan, dia bingung mencari Meme.

Isabel bersama teman-temannya mencari Meme. Untungnya, dia langsung tahu lokasi tinggal Meme. Sebab, hubungan antara dirinya dan ibu Meme kurang baik. Keduanya putus komunikasi sejak lama. ’’Meme cerita, selama tinggal di Bulak, ketika tidak ada ibunya, sering dipukuli. Sama ayah tirinya juga begitu,” katanya.

Ibu enam anak itu mengungkapkan, Meme juga cerita kerap dipukul ayah tirinya dengan rotan. Ukurannya lumayan panjang. Meme yang duduk di sebelah Isabel memperkirakan ukuran rotan itu. Sekitar 1,5 meter. ’’Seginian, Om,” ucap Meme singkat.

Kini di rumah kontrakan Isabel ukuran 4 x 15 meter persegi, Meme berbagi tempat istirahat dengan Isabel. Isabel tidak tega jika harus membiarkan keponakannya itu menderita. Dia juga khawatir, hal yang tak diinginkan terjadi kepada Meme. ’’Pikiran saya waktu itu jelek-jelek. Takutnya Meme disuruh ngemis, disuruh nyuri,” terangnya.

Isabel tak peduli dengan beban di pundaknya sekarang. Di sisi lain, suaminya juga tidak bekerja karena menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) buntut pandemi. Sebelumnya, suaminya bekerja di rumah karaoke keluarga di Rungkut.

Per hari, kata Isabel, uang Rp 100 ribu tak cukup untuk kebutuhan makan. Tiap sore dia membuka lapak makanan ringan. Dia berjualan sosis bakar di pinggir Jalan Kalibutuh. ’’Dibilang nggak cukup, ya memang nggak cukup. Tapi, ada saja uang untuk ini dan itu,” paparnya.

Isabel berharap Meme bisa belajar di sekolah dasar. Dia sempat kesulitan untuk mendaftarkan Meme ke sekolah negeri. Sebab, Meme tidak disekolahkan di TK oleh ibunya. Sementara itu, syarat masuk sekolah dasar negeri wajib memiliki ijazah TK.

Berbeda jika Meme masuk sekolah swasta. Sayangnya, biaya pendidikan di sekolah swasta cukup menguras kantong Isabel. Per bulan biaya pendidikan sekolah dasar swasta Rp 300 ribu. Biaya masuk kali pertama Rp 1,5 juta.

Imam Syafi’i selaku anggota Badan Anggaran DPRD Surabaya yang ikut mendampingi Jawa Pos sore itu menuturkan, seharusnya Meme bisa bersekolah di negeri. Sebab, kondisi Meme kasuistik dan perlu kebijakan khusus dari dinas terkait.

Politikus Partai Nasdem itu berencana untuk berdiskusi dengan dinas pendidikan (dispendik) dalam waktu dekat.

Kisah Meme membuat konselor anak dan remaja Agustina Twinky Indrawati angkat bicara. Dihubungi kemarin, Twinky mengungkapkan, Meme pasti merasa sakit dan insecure di dalam pikiran hatinya.

’’Pada saat ketemu orang lain, Meme memasang tampang yang baik-baik saja. Itu melelahkan loh,” terangnya.

Selain capek, lanjut Twinky, Meme jelas sedih banget. Apalagi anak perempuan. Menurut dia, karakter anak perempuan itu butuh teman cerita. Sebab, anak perempuan itu bisa cerita saja pasti happy.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore